Dalam deru nafas panjang
Hela nafas terdengar kecewa.
Seperti gemuruh ombak menahan riaknya,
Ada amarah yang berusaha tertahan olehku.
Sampai kapan aku disiksa,
Pada kenang masa lalu penuh luka.
Sakitnya masih menyayat,
Membekas sampai ulu hati.
Salahku memang terlalu mudah menempatkan rasa, dan terlalu perasa menimbun kecewa.
Ego mungkin, ahh.. Dia yang memulai dengan membuka pintu-pintu harap tanpa syarat. Membiarkanku masuk, menetap dan meminta angkat kaki.
Lucu bukan? Dia yang jahat aku yang terluka.
Ada marah dan maki yang ragu-ragu, entah mengapa tertahan pada sajak-sajak puisinya tempo hari.
Apa harus menangis? Sangat memalukan
Atau tersenyum pilu? Sangat miris
Aku yang masuk, dan aku yang lupa pintu keluar. Sudahlah.. Sepertinya memang aku telah terbiasa patah hati.
By. Linda_Adhyasta
No comments:
Post a Comment