daun

Monday, 6 July 2015

:: Saat Bertengkar, Jangan Ucapkan 3 Hal Ini pada Pasangan Anda ::

*) YANG SAYANG PASANGAN WAJIB BACA!
Kehidupan suami istri dalam sebuah keluarga bukanlah kehidupan surga yang hanya berisi kenikmatan dan suka cita. Seromantis apapun suami istri, sesakinah apapun keluarga, suatu saat pasti ada masalahnya. Kadang suami istri berselisih dalam satu hal, atau ‘bertengkar’.
Perselisihan atau ‘pertengkaran’ yang sesekali terjadi pada suami istri bukanlah hal yang fatal. Sepanjang bisa mengendalikan diri dan mengontrol kata-kata. Nah, agar perselisihan atau ‘pertengkaran’ tidak berkepanjangan, tidak membawa luka mendalam serta tidak merusak hubungan cinta dan kasih sayang, suami istri perlu menghindari tiga ucapan ini:
=> Ancaman
Suami istri harus menghindari kata-kata yang bernada ancaman. Sebab ancaman hanya makin menyulut kemarahan pasangan hidup kita dan masalah berkepanjangan. Kalaupun ancaman meredakan masalah secara temporer, ia membekaskan kekhawatiran di jiwa pasangan hidup kita.
Kata-kata seperti “Awas, kalau kamu tidak berubah, aku akan pergi dari rumah ini” atau “Jika kamu mengulangi hal itu lagi, aku akan mengusirmu dari rumah ini” harus dihindari. Betapa banyaknya keluarga yang berantakan setelah suami mengeluarkan ancaman semacam ini, kemudian istrinya menjawabnya dengan ancaman pula. “Oke, kalau begitu aku akan pulang ke rumah orangtuaku.”
Yang lebih berbahaya, jika suami mengancam dengan menggunakan kata “cerai.” Seperti kalimat: “Kalau begini caranya, aku akan menceraikanmu.”
Rasulullah mengingatkan tentang kata-kata cerai ini.
ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ وَالرَّجْعَةُ
“Tiga perkara yang serius dan bercandanya sama-sama dianggap serius, yakni nikah, talak dan rujuk” (HR. Abu Daud)
Imam Nawawi menjelaskan, “Orang yang mentalak dalam keadaan ridha, marah, serius maupun bercanda, talaknya tetap jatuh”
Ungkapan kebencian
Meskipun sedang marah atau ‘bertengkar’ dengan pasangan, hindari kata-kata “Aku benci kamu.” Sebab, disadari atau tidak, kata-kata ungkapan kebencian ini bisa sangat membekas di hati pasangan hidup, khususnya ketika diucapkan oleh seorang suami kepada istrinya. Sang istri akan merasa bahwa suaminya sudah tak lagi mencintainya. Dan ini berbahaya bagi kehidupan pernikahannya.
Bahkan, bekas sayatan hati karena ungkapan benci ini akan terus terbawa dalam benak istri meskipun kemarahan sudah mereda, pertengkaran sudah selesai, dan permalasahan sudah teratasi. Salah satu tandanya, ketika ada hal yang tak diinginkan dari suami, istri teringat kembali akan kata-kata itu. Para suami perlu menyadari bahwa wanita adalah makhluk perasa. Sensitif perasaannya.
=> “Selalu” dan “Tidak Pernah”
Kata-kata ini juga perlu dihindari. “Selalu” dan “tidak pernah.” Misalnya ketika suami istri bertengkar gara-gara anaknya yang masih SD terlambat sekolah. “Ini gara-gara kamu, kamu selalu terlambat menyiapkan sarapan,” kata suami. Padahal, dalam satu pekan atau satu bulan, baru kali itu sang istri terlambat menyiapkan sarapan. Itu pun karena dirinya tidak enak badan.
Sedangkan penggunaan kata “tidak pernah” umumnya lebih sering dipakai wanita. Ketika marah kepada suaminya, ia mengatakan “Engkau tidak pernah membahagiakanku”, “Kau tidak pernah memberiku nafkah yang layak” dan seterusnya.
Kata-kata “tidak pernah” ini merupakan bentuk pengingkaran atas kebaikan pasangan hidup kita. Dan karena ini banyak digunakan wanita, inilah yang menyebabkan kebanyakan penghuni neraka adalah wanita. Sebagaimana sabda Rasulullah:
وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Mengapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali tidak pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wednesday, 24 June 2015

RENUNGAN SUAMI & ISTRI

“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.
Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.
Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja.
Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas.
Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.
Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.
Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah.
Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.
Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.
Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur....
“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.
“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.
Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.
Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu.
Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.
Dalam batin, dia bergumam,
“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan.
Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.
Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku.
Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.
Wahai istriku, di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.
Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.
Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu?
Dengan alasan apa aku perlu marah padamu?
Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata.
Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.
Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla.
Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”
Tanpa terasa air mata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.
Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.
***

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.
Aminah, istri Amin, terperanjat
“Astaghfirullaah, sudah jam dua?”
Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.
“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.
Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.
“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.
“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.
“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.
“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.
Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku.
Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah azza wa jalla serta membahagiakanku.
“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah azza wa jalla yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah azza wa jalla. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

Monday, 15 June 2015

Kepada Calon Ibu Mertuaku, dari Gadis yang Akan Segera Mendampingi Putramu

Ibu, sebentar lagi anakmu akan bertambah satu. Bukan karena Ibu akan melahirkan untuk kesekian kalinya — tentu tak mungkin mengingat usia Ibu yang tak lagi muda — namun karena putra Ibu yang sudah dewasa akan segera mempersunting seorang wanita.
Aku bersyukur bahwa wanita itu adalah aku. Akulah yang akan menjadi anak Ibu yang baru.
Terima kasih, Ibu, karena sudah mempercayakan putramu kepadaku.
Terima kasih, karena sudah merawat dan membesarkannya dari kecil hingga dewasa
Kini giliranku yang akan mendampinginya. Terima kasih, Bu, telah merelakannya.
Ibu, terima kasih karena mau membuka hati dan menerimaku ke dalam lingkar keluarga. Tahukah Ibu betapa jantungku berdegup kegirangan ketika Ibu mau menyambutku dengan tangan terbuka? Ya, aku tak pernah mengira jika tanggapan Ibu kepadaku akan begitu hangatnya. Apalagi karena aku gadis yang biasa-biasa saja.
Aku ingat ketika kali pertama aku diajak berkunjung ke rumah Ibu. Aku gugup luar biasa, takut jika Ibu akan menolakku. Namun nyatanya ketakutan hanya ada dalam lingkar kepalaku saja.
Saat kali pertama aku tiba, Ibu langsung menyambutku dengan tangan terbuka. Ibulah yang membuka obrolan, memahamiku yang saat itu sedang dilanda kegugupan. Di kunjunganku yang berikutnya Ibu tak pernah alpa untuk duduk bersamaku dan membicarakan ini-itu. Bahkan, Ibu dengan repotnya bersedia membuatkan banyak rupa makanan untuk kubawa pulang.
Sekali lagi terima kasih Bu, sudah mau menerima gadis biasa saja seperti aku masuk ke dalam lingkar keluargamu.
Harus kuakui, Bu, aku memang gadis yang biasa saja. Aku tak pandai memulas bedak dan mengoleskan gincu. Selera pakaianku juga tidak istimewa. Pakaian yang kukenakan selalu itu-itu saja, tak lepas dari kaos, celana jeans, dan sepatu kets. Bahkan, aku juga tidak terlalu mengikuti gaya berpakaian gadis jaman sekarang.
Untuk urusan dapur, aku juga tak begitu lihai. Masakan andalanku hanyalah nasi goreng yang dibalut dengan telur mata sapi. Walaupun terkadang aku mencoba membuat tumis kangkung yang hasilnya jauh dari sempurna karena selalu kelebihan garam. Maafkan aku karena belum bisa menyiapkan santapan lezat sarat gizi yang biasa kau sediakan untuk putramu.
Jika dibandingkan dengan gadis lainnya, aku memang kalah menawan. Namun, Ibu tidak usah meragukan kadar cintaku kepada putramu. Ya, aku mencintainya dari lipatan hatiku yang paling dalam. Aku berjanji pada Ibu bahwa dengan segala kekurangan yang aku miliki aku akan membahagiakan putra kesayanganmu.

Ibu, di balik kekurangan yang aku miliki, aku selalu ingin belajar. Ya, aku ingin menjadi istri yang istimewa bagi calon suamiku. Aku mulai belajar mengenal ragam rempah-rempah dan membiasakan meracik bumbu di dapur. Bersediakah Ibu membagikan resep makanan kegemaran putramu? Aku ingin suamiku nanti bisa makan dengan lahap ketika menyantap kudapan buatanku.
Aku juga ingin Ibu tahu bahwa ada banyak hal dari ibu yang ingin aku tiru. Ya, aku ingin tangguh dan serba bisa seperti ibu. Diam-diam aku juga memendam keinginan untuk membekali diriku dengan ilmu menjahit, kegiatan yang biasa Ibu lakukan demi mengisi waktu luang. Supaya nantinya aku bisa membuatkan calon buah hatiku baju mungil berlogo nama lahirnya sebagaimana Ibu selalu membuatkan putramu baju-baju lucu nan menggemaskan ketika ia masih bayi.
Ibu, sebentar lagi hari bahagiaku dan putramu akan segera tiba. Ya, kami akan saling mengucap janji sehidup semati di depan ratusan pasang mata. Kami akan saling menautkan jemari hingga usia kami menua. Aku akan menjadi teman hidupnya yang akan selalu menemani dan sedia di sampingnya. Menemaninya melewati masa-masa suka maupun masa terendah dalam kehidupan. Ya, aku berjanji akan selalu ada di sisinya dalam kesenangan maupun saat duka datang bertandang.
Ibu tidak usah khawatir, saat nanti putramu sudah menjadi suamiku, kami masih akan sering berkunjung. Aku juga akan selalu menyempatkan diri untuk menelpon Ibu demi menanyakan kabar serta menentramkan hati Ibu. Putra Ibu tidak akan kemana-mana, ia masih akan menjadi putra kesayangan Ibu.
Ibu, tidak usah cemas jika aku akan menggantikan posisi ibu.
Karena memang ada dua tempat di lipatan hati calon suamiku.
Untukku, wanita yang akan mendampinginya dan untuk Ibu, wanita yang telah melahirkannya ke dunia.

Dariku,
Gadis sederhana yang sudah siap mendampingi hidup putra kesayanganmu

Sunday, 14 June 2015

MENEMPUH HIDUP YANG BARU.,.,.,. !!!!

Bismillah,,.. 
Malam yang sunyi ini,.,,.menemaniku dalam renungan doa malam. Aku tak mampu perpikir diantara aku harus bahagia dengan hari esok ataukah merana karna hari kemarin. 
Hari esok adalah hari dimana masa depanku terpampang jelas di depan mata ini. 
Dia... pria yang mencintaiku setulus hati, telah siap menyerahkan hidupnya sepenuhnya hanya untuk diriku.
Dia... pria yang memberikan segenggam tekat menjalani kehidupan bersamaku untuk sekarang, besok, dan seterusnya.
Dia... pria yang siap membimbingku untuk menuju surga terindah-Nya Allah.
Dia... pria yang memanggilku dengan sebutan ibu dari anak-anaknya nanti. 
Dia... pria yang akan selalu menjagaku bersama keluarga kecil kami nanti.
Dia... pria yang sempurna untukku.
Kita dalam doaku akan bersama hingga maut menjemput kami. karna dia cahaya terterang yang ada saat ini, menyambutku dengan senyuman, menggandeng tanganku menuju satu tujuan yaitu keluarga sakinah, mawadah, warohmah.

Hari kemarin adalah hari dimana cinta yang belum usai. Cinta yang masih tersimpan untuk selalu terkenang dan selamanya akan jadi kenangan. Cintanya mungkin sudah tak aku miliki lagi. Dia mungkin sudah bahagia dengan yang dia cintai sekarang. Aku akan selalu menjaga kenangan itu sebagai sejarah hidupku yang terindah. karna cintanya dulu sudah pernah membuatku tersenyum bahagia, kuat ketika merasa putus asa. cintanya pernah membuatku bangkit dari keterpurukan, tapi semua itu sirna terhempas embun kala pagi demi pagi tiba. kenangan yang dulu adalah sejarah hidup yang tertulis rapi untuk aku jalani, mengambil hikmah dari semua yang pengalaman hidup. cinta yang datang silih berganti dalam hidupku. semoga memang inilah pelabuhan cinta yang kutuju  terakhir. semoga ini memang jalan takdir yang Kau tuliskan untukku hambamu ini. satu hal yang selalu ku genggam teguh sampai hari ini,aku percaya bahwa " kalau jodoh, tuhan pasti akan mempertemukan kita"


BISMILLAH,.,.,. MEMBUKA LEMBARAN BARU,.,.. MENEMPUH HIDUP YANG BARU

Thursday, 11 June 2015

Walau Dulu Rasa Cinta Pernah Ada, Kini Aku Telah Merelakanmu Bersama yang Lainnya

Untukmu, punggung yang selalu kunikmati dari kejauhan.
Dulu sekali, rasa cinta memang sangat akrab dan sering bergelayut manja di rongga hatiku. Selalu berhasil membuatku meremang ketika sosokmu tak sengaja tertangkap oleh mata. Ya, hanya mataku memang yang bisa menikmatimu. Sementara tangan dan bibirku harus rela meredam keinginannya untuk mengecup serta mendekap. Namun tak mengapa, toh aku masih bisa menikmati punggungmu dari kejauhan.
Asal kau tahu, mendoakanmu diam-diam juga selalu menjadi ritual wajibku tiap petang. Walau kemudian kini telah ada sosok manusia lain di sisimu yang juga turut serta aku doakan.

Lama memang aku tak bersua dengan dirimu. aku pun sempat kehilangan rekam jejakmu. Aku menyukaimu memang, tapi tak menjadikanku sosok yang gemar menguntit karena ingin tahu keseharian dirimu. Sesekali, harus kuakui, aku sengaja menyasarkan diri ke beberapa akun media sosial milikmu. Sekedar mengintip apa kegiatan atau curahan hati yang kau tuliskan di sana. Ah, dan tentu saja sekaligus mengobati rindu yang entah sudah sedalam apa guratannya.
Walau jarang melihatmu namun aku tetap mengencangkan sinyal di kepalaku supaya bisa menangkap berita apapun seputar dirimu. Pada akhirnya, kabar yang enggan kudengar sampai juga. Kata suara-suara yang dihembuskan oleh angin dan hinggap di telingaku, dirimu tak lagi sendiri karena telah ada sosok yang mendampingi. Ada tangan manusia lain yang mengisi kekosongan di antara jemarimu.
Banyak tanya sering beterbangan di dalam rongga dadaku,
“Bahagiakah dirimu bersama dengannya? Sempurnakah sosoknya yang kini mengisi hari-harimu?”
Entah mimpi apa aku semalam, bertemu denganmu merupakan hal terindah yang kubayangkan saja aku tak punya cukup nyali. Kau masih nampak seperti dulu, rupawan tanpa perlu banyak hiasan. Kau melihatku yang sedang duduk diam di pojokan, aku yang tentu saja sedang terpana melihat keajaiban Tuhan. Kau melambaikan tangan dan mempersembahkan senyum untukku. Selanjutnya kau pun melangkahkan kaki ke arahku, membuka obrolan ringan mengenai kabar, pekerjaan, dan entah apa. Aku tak ingat benar, aku hanya mampu menjawab ‘ya’ dan ‘tidak’ selebihnya perhatianku tersedot habis pada sosokmu, pada senyummu.
Pertemuan singkat di senja hari itu kembali lagi membuka kenangan yang sudah kusimpan rapat. Walau kita tak terlalu akrab, kau mengetahui sosokku dengan baik, walau tentu saja tak sebaik aku mengenalmu. Aku selalu hapal senyuman manis yang tersungging di bibirmu. Hapal pula pada setiap hal yang kau suka dan kau benci. Tahu benar segala bahasa tubuhmu.
Kita memang saling mengenal, tentu saja, namun hubungan yang terjalin di antara kita tak terlalu lekat. Ya, bagaimana bisa aku mengakrabkan diri padamu jika melihatmu dalam jarak dekat saja jantungku sudah meronta ingin keluar dari tempatnya? Kaki ini pun tak bisa diajak berkompromi karena mendadak lemas dan tak mampu menopang bobot tubuhku. Aku pun tak bisa berhenti melakukan kebodohan karena dilanda kecanggungan. Mungkin itulah alasannya mengapa aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan dan kita hanyalah sebatas teman.
Aku paham benar kau dan aku memang diciptakan untuk tak menjadi satu. Oleh karena itulah, aku pun tak pernah menyalahkan Tuhan maupun keadaan. Aku percaya selalu ada beribu alasan baik di baliknya. Menikmatimu dari kejauhan saja sudah membuatku mengucap syukur dalam-dalam. Tentu aku tak akan menjadi hamba yang tak baik pada Tuhan dengan memaksa memintamu untuk menjadi milikku.
Kata sinetron layar kaca dan buku roman yang pernah kubaca, jika memang kau mencintai orang itu benar-benar maka kau harus merelakannya. Membiarkannya berbahagia dengan orang pilihannya. Ah, sebut saja aku tolol dan melankolis, tapi memang sepertinya itulah yang akan kulakukan. Menjagamu dari jauh, mengirimkanmu doa yang tak putus.
Hingga detik ini ada dan tulisan ini selesai kubuat, kau memang tak pernah menjadi milikku. Kita hanya sebatas teman, itupun tak begitu lekat. Namun justru dengan itulah aku bisa memetik dan mengunyah ilmu baru. Aku belajar bagaimana cara melapangkan hati. Bagaimana mengikhlaskan orang yang dikasihi pergi. Sungguh, walau dulu aku pernah begitu memujamu, namun kini telah kurelakan dirimu bersanding dengan yang lainnya.
“Akan selalu ada setangkup doa untukmu di tiap senja. Dimanapun dirimu berada, semoga kau tidak lupa untuk bahagia.”

Wednesday, 10 June 2015

aku juga wanita

Wanita mampu menangis dalam tawanya.
Wanita juga mampu tertawa dalam tangisannya.
.
Terkadang wanita mampu tersenyum sepanjang Hari
Tapi menangis dalam kesendirian
di sepanjang malam ..
.
Saat sedang bermasalah wanita berkata:
"Aku baik-baik saja" padahal kenyataannya hati
wanita hancur berkeping-keping. Mereka sedikit kesulitan
mengucapkan isi hatinya, Lukanya,
bahkan semua yang membuatnya terluka. Jika pun mereka bisa
mengungkapnnya mereka tidak mampu
mengungkapkan
semuanya, selalu ada yang tersisa untuk di ungkapkan..
.
Karena dalam kondisi seperti apapun wanita masih
memikirkan perasaan pria nya.
Mereka tidak ingin pria nya sedih dan ragu meskipun di saat
bersamaan hatinya sudah hancur lebur. .
Bagai kapas yang berterbangan yang sulit untuk di
satukan kembali dalam sebuah hati yang utuh.
.
Setegar dan sekuat apapun wanita, dia pasti
menangis. Entah dengan atau tanpa aliran air mata. Dalam setetes air matanya ada jutaan kata penuh
makna yang tak mampu terucap.
Kepada semua orang ia mampu tersenyum, tapi
Hanya untuk orang yang ia sayangilah ia menangis.
.
Wanita adalah makhluk Allah penuh makna. Jangan sakiti wanita karena wanita di ciptakan
bukan untuk di sakiti Dia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, layak
untuk dilindungi dan disayangi Keinginan hanya satu, Pengertian dari orang yang ia cintai.^^

ehm

Seberapa TULUS seseorang mencintaimu akan kau
ketahui saat dia melihat apapun keadaan
dirimu,bahkan saat kondisi
TERBURUKMU..
.
Seseorang yang TULUS mencintaimu TAK KAN MENINGGALKANMU karena KEKURANGAN
yang ada pada dirimu.
Karena baginya adalah LADANG IBADAH untuk menuntunmu ke arah yang lebih baik, bukan
membiarkanmu terpelosok dalam lumpur dosa..
.
Baginya, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan dia.
Kebaikanmu adalah kebaikan dia.
Mampu menorehkan lembaran berharga untukmu adalah impiannya..

Thursday, 4 June 2015

KATA2 selama 3 bulan(april,mei,juni) yg terpendam dlm catatan handphone

Mungkin dia hanya belum sadar, meninggalkan orang yang tulus itu merugikan.

Malam ini tak seindah dulu. dulu saat kamu masih jadi yang teristimewa dihatiku~

belajar sabar, sabar menghadapi sifat egois kamu :'|

"Aku memikirkan masa depanku dan kamu"

Ya Tuhan. terimakasih atas nafas kehidupan yang telah kau berikan hingga saat ini

Saat aku mulai serius ngejalanin hubungan kenapa kamu malah ninggalin aku? :'(

Sayang sih tapi bukan berarti boleh menggenggam (hati) terlalu erat :')

Mungkin ini memang salahku yang terlalu peka dengan semua aksi tebar pesonamu~

Mungkin ini bukan cinta. karena terlalu sakit saat ku genggam~

Perasaan sayang ke kamu sih masih ada, cuma kamu aja yang beda :(

Saat aku masih menjadikanmu satu-satunya, kamu ke mana?

seharusnya rindu itu diawali dgn sebuah pertemuan. dipisahkan dgn jarak. kemudian diakhiri lagi dengan pertemuan yg membahagiakan.

mempertahankan hubungan itu susah. apalagi saat dia yang memulai untuk melepaskan :'|

Cinta itu buta. Makanya kita butuh hati untuk melihat seberapa dalamnya cinta tersebut

semoga kita semua bisa bahagia dihari ini.. amin!

namanya juga sakit hati. akan terus sakit jika tidak diobati~

pernah berusaha untuk melupakanmu, namun semua sia-sia :')

Bukan soal ganteng atau cantik, klo urusan hati itu soal kenyamanan.

Perempuan harus pemalu. Malu jika sedikit-sedikit mengeluh, curhat sana sini dan banyak menuntut.

Cinta memang aneh. Kita menyukai seseorang, namun tidak tau apa alasannya :')

baru ketemuan aja masih kangen. :')

kalau hatinya masih berantakan ya diberesin dulu.. biar orang berikutnya yang mau tinggal bisa ngerasa nyaman dan betah

Demi apa pun aku kangen kamuuuu..... :')

"karena memberi tak harus mengharap kembali. cinta dengan keikhlasan memang indah"

bersyukur karna telah mengenalmu, membuatku mengerti arti 'indah' sebenarnya :)

tidak ada yang berpisah, hanya berbeda dimensi - habibie

Rindu bukanlah lautan tak bertepi, selalu ada hati setia menanti, meski itu hanyalah karang sepi.

Namanya juga manusia, kadang kangen, kadang abis ketemu malah tambah kangen.

Cinta itu takan menyakitimu, malah akan membuatmu bahagia. Asalkan kita bisa menjalani dan membawanya dengan baik..

Menurutmu mencintai itu mudah, tapi menurutku mencintai itu butuh proses. Seperti proses melupakan masa lalu..

Harapan itu harus ada, namun jika tanpa ada usaha buat mengejar harapan itu, akan terlihat percuma

Sadar dong, aku tuh sayang kamu lebih dari temen biasa..

Aku yg sayang padamu, tapi dia yg lebih kamu pilih...

Sadari aku ini buka manusia sempurna yg bisa memberi semua apa yg kamu mau

I still loving you

Sepi sendiri, terlupakan.. Kau menghilang begitu saja :(

Suatu hari,, kalian yg meremehkanku akan tertunduk malu saat melihatku lebih sukses dari kalian..

Terlalu memimpikanmu, merindukan hadirmu, walaupun ku tau kamu sudah tak mungkin bisa menerimaku kembali..

Kadang untuk mengingatmu kembali pun buat aku harus membuka luka lama yg sudah ku simpan..

Senyumlah, tinggalkan sedih. Bahagialah, lupakan takut. Sakit yang anda rasakan, tidak setara dengan bahagia yang akan anda dapatkan.

Ikuti saja kata hatimu, jika itu baik untukmu, kerjakan! Tp jika tidak, tinggalkan saja..

Kadang mantan itu suka pura-pura cuek, pedahal dia suka diem-diem merhatiin kita..

Setiap apa yg kemu perjuangkan sungguh² pasti akan kamu capai pada waktunya..

Coba dengarkan sejenak suara hatiku, jika kamu benar mencintaiku, kamu takan pernah berniat menyakitiku..

Ada damai disetiap ku melihat senyummu..

Apa yg kamu miliki saat ini adalah apa yg kamu perjuangkan sebelumnya.. Syukuri lah..

Cintamu itu takan pernah kurasakan lg, senyummu takan pernah ku lihat lg. Karna kau telah pergi jauh meninggalkan hati ini..

Sudahlah jgn pernah membahas kembali cerita lalu kita, karna aku tak ingin lagi terluka oleh rasa cinta itu...

Harusnya kamu tau bahwa hati ini hanya untukmu :(

Tuhan takan pernah membiarkan rasa sakitmu melebihi rasa bahagiamu..

Apapun akhirnya nanti, yg ku bisa lakukan saat ini hanya terus berusaha menjaga hati dan berusaha membahagiakanmu..

Jika hanya kerinduan yg kumiliki, biarlah. Semoga cinta itu akan kumiliki nantinya..

Mampukah aku melihatmu bahagia dengan orang lain.. Jujur, aku tak sanggup

Kadang hati ini ingin teriak "aku benci kamu" tapi hati ini tak bisa berbohong, cuma kamu yg aku cintai

Hati itu ga bisa dibohongin, mulut sih bilang benci, tapi hati teriak sayang.

Selamat pagi buat kamu yg sampai sekarang masih saja mencintaiku.

Aku masih tetap disini, menunggu harapan cinta yg mungkin takan pernah berpihak padaku..

Jika cinta, jgn pernah kamu pendam.. Jika saatnya kamu terlambat, kamu cuma dapat sebuah penyesalan

Kesetiaan dan kejujuran yg aku harapkan darimu...

Jika cinta mu tak bisa kudapatkan, biarlah, tp ijinkan aku tuk terus mencintaimu..

Sesaat kuteringat begitu bahagianya aku dulu, sebelum kamu pergi dgn pilihan hidupmu..

Menurutmu mencintai itu mudah, tapi menurutku mencintai itu butuh proses. Seperti proses melupakan masa lalu..

Jika saja aku memiliki satu kesempatan lagi,, aku hanya tak ingin menyia-nyiakan cinta yg pernah kmu berikan

Tuhan tau, apa yg kita butuhkan... Baik atau tidaknya menurut kita,, itu keputusan Dia yg terbaik.

Ga pernah lelah buat nunggu kamu mencintaiku lagi..

Jgn pikir ketika kamu bisa menyakitiku kamu itu terlihat hebat! Ingat, saat itu kmu telah kehilangan orang yg benar² mencintaimu.

Hanya ini yg kumiliki, hati yg sudah memilihmu sejak dulu, memilih untuk menjadi pendamping hidupku..

Pingin tau seberapa seringnya kamu tertawa bahagia, ketika aku sudah tak ada disampingmu lagi..

Move on itu ngga susah ko! Cuma kadang beberapa orang males buat berusaha move on, beberapa orang jg ada yg CEPET move on :|

Paling sebel kalau kamu udah mulai cuek kaya gini..

Monday, 2 March 2015

Aku Kamu dan Jarak



Dia bukan penghalang untuk melihatmu saat ku rindu
Dia bukan pembatas dinding pemisah satu sama lain
Dia bukan pengukur seberapa jauh perasaan kita

Dalam ratusan kilometer membentang jauh
Selalu kutitipkan rindu pada hembusan angin
Selalu kubincangkan namamu disela doa untuk memelukmu
Selalu kupinta bintang malam memastikan kalau dirimu baik-baik saja

Dengan signal-signal kita beradu diujung suara
Dengan hujan rindu kita berrintikan bersama pelangi
Aku, satu perasaan yang menyatu dihatimu
Kamu, satu jiwa yang melebur diragaku
Jarak, satu jengkal yang menjaga interaksi kita

Yah... aku kamu dan jarak akan selalu bersama
Aku kamu dan jarak akan selalu berkesinambungan

Saturday, 21 February 2015

Pertemuan itu

Sayang…..
malam ini dimana kita
Telah bertemu untuk melepaskan
Semua kerinduan yang selama
Ini terpendam dalam hati


Saat ini diriku telah berada disampingmu
Dan hingga kini ku ingin membahagiakanmu
Walau apapun yang terjadi aku kan
Tetap stia untukmu.


Sayang…
Genggamlah tanganku dalam kehangatanmu
Peluklah aku dalam dekapanmu
Cintailah diriku dalam tulusnya cintamu
Sayangilah diriku dalam tulusnya kasih sayangmu
Dan jagalah diriku karna aku kan selalu menyayangi
Dan mencintaimu sampai titik napasku pun berhenti

Sunday, 8 February 2015

UNTUKMU PENGGANTIKU

Kepada Sang Pengganti,

Aku pikir ada beberapa hal yang harus kau ketahui, mengingat saat ini kau adalah orang yang dia cintai.
Jangan terkejut jika kamu jatuh cinta padanya hanya dalam waktu singkat, namun jangan pula terlalu-terburu-buru untuk sepenuhnya jatuh cinta padanya.

Kita memang tidak saling mengenal, dan aku yakin bahwa kamu tidak akan langsung menyukaiku. Aku tidak akan memberi pesan untuknya lewat social media, ataupun menyukai setiap postingannya. Dia akan memanjakanmu dari waktu ke waktu, namun dia akan bersikap bijaksana akan pengeluarannya, dia hanya akan menggunakan uang jika dia perlu. Kau akan mengetahui bagaimana reaksinya ketika dia bahagia seperti seorang anak kecil dan belajarlah untuk mendengarkan tawanya.

Kau akan mengetahui film favoritnya, dan bagaimana dia terlarut dalam hal itu. Kau juga akan mengetahui bahwa dia sangat menyukainya daripada pergi jalan-jalan.

Dia akan melakukan apapun yang kau minta, dan kalian akan jarang untuk bertengkar. Dia tidak suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan dan hubungan, jadi jangan berharap darinya, namun ketahuilah bahwa dia mencintaimu. Dia mungkin tidak akan memikirkanmu setiap saat, tapi kau akan sering terlintas dalam pikirannya.

Dia memiliki mimpi yang besar yang cukup dapat dipercaya. Jadi, tugasmu adalah mengatakan betapanya tampannya dia, betapa pintarnya dia, dan bahwa ia mampu melakukan semuanya. Dia mungkin tidak akan percaya padamu, tapi jangan berhenti melakukan hal itu setiap hari.

Dia membuatmu melihat dunia dalam sudut pandang yang berbeda, dan akan ada banyak pertanyaan yang ingin kau ketahui darinya. Dia tidak bisa memasak, jadi jangan berharap akan hal itu darinya.

Ketika kalian berdua pergi keluar, dia akan memperhatikanmu sepanjang hari, seakan hanya ada kalian berdua disana. Ketika kau berdansa dengannya, itu merupakan hal yang sempurna. Dia akan memberitahu segala hal tentang masa lalunya, dan tugasmu adalah memegang erat tangannya dan berkata bahwa kau tidak menilainya sebelah mata.

Dia adalah orang yang lebih baik karena apa yang dia alami di masa lalunya, dan dia menemukanmu atas apa yang ia rasakan sebelumnya. Aku berharap kau mencintainya sebanyak yang ia pantas dapatkan, dan aku berharap dia mencintaimu sedalam yang aku pikirkan. Aku berharap dia jujur padamu, tidak seperti padaku, tapi dari semuanya, aku berharap kamu mendapatkan kisah cinta seperti dalam dongeng yang tidak kudapatkan darinya.

Ingat satu hal: bukannya aku tidak menyukaimu, tapi kalau boleh jujur, aku iri padamu.

Aku berharap suatu hari aku bisa bertemu denganmu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kita memiliki hubungan yang tidak dimiliki oleh orang lain dan saya yakin kamu adalah orang yang baik. Dia melihat kepribadian dari seorang gadis sebelum jatuh cinta pada penampilan fisiknya. Ini adalah kualitas yang langka dalam diri seorang pria.

Aku hanya minta satu hal darimu: jangan menyakitinya seperti dia menyakitiku. Aku percaya pada karma dan aku percaya orang mendapatkan apa yang berikan pada dunia, tapi aku tidak pernah berharap bahwa rasa sakit itu menimpa pada siapapun, terutama dia. Kau berkencan dengan pria impianku dan aku benar-benar tulus ketika mengatakan bahwa aku berharap semuanya berjalan dengan lancar untuk kalian berdua.

Tuesday, 3 February 2015

*MERAIH HAMPA*




Adzan subuh berkumandang, mataku berusaha mengumpulkan tenaga untuk memandang terangnya lampu kamarku. Sayup-sayup terdengar ditelingaku kumandang Adzan subuh. Segera aku bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh.

Hari ini hari minggu. Waktunya beristirahat dari semua rutinitas pekerjaan dan berolah raga pagi untuk mengembalikan kebugaran badan dan refreshing pikiran. Aku bersepeda mengelilingi desaku yang masih asri ini. Sepeda ku kayuh meninggalkan rumah dengan bacaan basmallah. Dinginnya pagi itu membuatku terhanyut dan tenggelam dalam lamunan panjang. Teringat pertengkaran hebat yang terjadi tadi malam, sehingga membuatku harus meneteskan air mata. Ahmad nama orang yang sangat aku kasihi dan sayangi. Entah mengapa beberapa hari ini selalu marah-marah tanpa alasan yang pasti dan jelas. Membuat aku terlalu sering menyimpan pilu dalam hati. 

Teringat selalu kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat hatiku terluka.
“Aku mencari wanita untuk aku jadikan pendamping hidupku kelak dan hingga akhir hayatku. Yang mau mendengarkan dan mau ku bimbing menjadi wanita yang baik dan pantas untuk menjadi istri yang solehah. “ katanya dari dalam telfon yang aku genggam dengan nada yang agak meninggi.
“Aku minta maaf sayang. Aku tahu aku salah. Membeli handphone tanpa seizin kamu. Tapi, itu aku lakukan untuk menolong temanku yang sedang terdesak membutuhkan uang. Saat itu pula kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu.” Ucapku membela diri.
“Terus apa maksut kamu memposting pin BBMmu di facebook?”
“Aku hanya memberikannya kepada beberapa temanku di facebook. Itupun nggak lama, Cuma beberapa menit. Setelah itu aku hapus.”
“Kalau kamu tidak bisa aku bimbing ya sudah, terserah kamu saja.”

Piiiieeeemmm.....piiieeeemmm..... suara klakson mobil menyadarkanku dari lamunanku. tanpa aku sadari posisi sepeda yang aku naiki tepat ditengah jalan. Sesegera mungkin aku mengarahkan sepedaku ketepian jalan. Sang matahari mulai memancarkan sinar terangnya. Semakin cepat ku kayuh sepeda untuk segera pulang kerumah.

         Tanggal 1 februari 2015. hari ini ada expo kampus di SMA Negeri 1 Tipa. Aku siap-siap bergegas untuk datang ke acara itu. Dengan agak tergesa-gesa karena acranya jam 10, aku mempercepat laju sepeda motor yang ku naiki. Sesampainya di SMA Negeri 1 Tipa, aku segera memarkirkan sepeda motorku. Sambil berlarian kecil aku menuju ruang expo. Di tempat expo kampus aku bertemu dengan beberapa teman lamaku. Mereka kuliah di beberapa universitas yang ada dalam expo kampus itu. Beberapa diantaranya ada yang dari UNNES, UNS, UI, UMS, UIN, UNY, USM, IKIP PGRI dan masih banyak lagi. Setelah asyik bercengkrama dan reunian kilat dengan teman-teman lamaku. Aku mencoba mencari seseorang yang sejak tadi aku datang, belum nampak batang hidungnya. Bruri,iya.... Bruri namanya, sahabat terbaikku yang sudah aku kenal selama kurang lebih empat tahun ini.

          Aku mengambil handphone dari dalam kantong celanaku dan segera menelfonnya.
“ Kak, kamu dimana?”
“ Aku dirumah ai.”
Tuuuutttt.......tuuutttt.......tiba-tiba telfonku mati. Karna sinyal yang jelek.

          Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera aku keluar dari ruang expo dan berjalan ketempat parkiran sepeda motor. Belum sampai aku ketempat parkir sepeda motor, hujan lebat mengguyur SMA Negeri 1 Tipa dengan sangat derasnya. Aku mencoba mengirim pesan kepada Bruri.
“ Mungkin aku kerumah kamu agak sorean kak. Karna disini ujan deres banget.”
Lama aku menunggu balasan sms darinya yang tak kunjung masuk ke handphoneku. Akhirnya aku berfikir untuk menelfonnya saja.
“ Assalamuallaikum kak, lagi dimana? Aku ntar kerumahmu ya.......?!”
“waalaikumsalam, iya.” Jawabnya singkat dan terkesan cuek dan acuh tak acuh.
“ Kamu kenapa sih kak, bersikap gitu sama aku? Kalau kamu nggak ngebolehin aku kerumah kamu, bilang saja.”
“ Iya, kamu kesini aja. Tadi aku dipanggil ibu diajak ngomong ibu makanya aku jawabnya singkat. Kamu kenapa sih, dari kemarin marah-marahin aku terus?.” Segera aku menutup telfonnya.

Sejenak aku berfikir, memang aku sangat keterlaluan kepadanya beberapa hari ini. Setiap pertengkaran yang terjadi antara aku dan Ahmad. Aku selalu saja menceritakannya kepadanya, apapun keluh kesahku. Semua aku curahkan sepenuhnya kepadanya, selama ini dia selalu bisa memahami perasaanku dan aku menyayanginya melebihi dari sekedar teman biasa. Aku merasa nyaman dan tenang berada disisinya. Tapi, sudah hampir seminggu ini aku selalu bersikap sinis ,judes dan cenderung menghakiminya tanpa tahu apa salahnya. Apa mungkin  aku melampiaskan kemarahanku kepadanya karna efek pertengkaranku dengan Ahmad....??? jadinya dia yang kena imbasnya. Mungkin,iya.....mungkin saja begitulah yang terjadi. Aku harus meminta maaf kepadanya.....iya harus dan wajib.

Aku melihat jam yang ada di handphone yang ku genggam tertera 14:20. Hujan mulai reda meninggalkan gerimis dan genangan air dimana-mana. Aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam. Sesampainya didepan rumahnya, aku melihat ada 3 orang pelanggan yang duduk didepan warung usaha ibunya. Ku coba mengetuk pintu dan mengucap salam. Seorang pria keluar dari dalam kamar, yang letaknya terlihat dari depan pintu depan. Orang itu yang sering aku panggil kak Bruri.
“Duduk ai.....!!.” sapanya singkat, mempersilahkan aku duduk.
Dia memang memanggilku dengan panggilan akrab “Ai”. Katanya dulu siiiihhhh...... aku seperti istrinya nabi Muhammad SAW yang namanya Aisyah yang super duper cerewetnya.Hehehehe.....
tanpa basa-basi aku langsung duduk. Tak lama kemudian ibunya keluar dari dalam, akupun bersalaman dengan beliau.
“eh kamu ndri, udah lama?.”
“Barusan aja bu.” Jawabku singkat dengan melempar senyuman ramah.

Kak Bruri memandangiku yang dari tadi hanya diam saja.
“Kamu kenapa Ai?”
“ Nggak....., aku nggak apa-apa!!.”
“Aku tadi nggak ikut expo kampus setelah tau kamu mau datang kerumahku.”
“Maaf kak, aku nggak tau.”
“Kamu kenapa Ai, sering marah-marah?.” Sambil mengambil gitar yang ada di pojok ruang tamu.
“Aku Cuma bingung kak, Ahmad akhir-akhir ini sering marah-marah kepadaku. Aku capek kayak gini terus, kak. Aku ingin menjadi diri aku sendiri, tanpa harus berpura-pura manis dan tegar dihadapannya, menahan semua luka dihatiku, Melawan kesepian tanpa hadirnya disaat aku membutuhkannya. Hanya karna aku tak ingin membuatnya sedih dan menambah beban pikirannya. Aku memilikinya tapi aku merasa sendiri.”
“Tapi kamu mencintainya kan, Ai....???.” sambil memetik gitar berirama sebuah lagu.
“Iya kak, aku sangat menyayanginya. Rasa sayangku yang membuat aku kuat dan selalu sabar. Aku yakin mungkin sekarang aku sedang diberi cobaan untuk memperkuat rasa cinta dan kasih sayang antara aku dengannya. Dia bekerja untuk masa depannya dan insyaAllah juga masa depanku nanti. Dia berjuang untuk masa depannya yang indah.”
“Ya..... yang sabar aja Ai.” Sambil masih terus memetik gitar, berasa diriku seperti penyiar radio. Berbicara diiringi dengan irama lagu-lagu.

Tiiiittttiiiittt.......tiiitttiiittt........... handphoneku yang dari tadi aku taruh diatas meja berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Ku buka SMS itu, muncullah satu kalimat “ Sayang ” Dari Ahmad.
“Tuh kan.... di sms dia.” Aku membalas dengan senyum bahagia. Sambil terus membalas sms dari Ahmad.
“Aku juga sudah punya pacar, Ai.” Katanya sambil menunjukkan sebuah foto di handphonenya kepadaku. Ku amati foto gadis berpipi cabi dan berkerudung warna-warni menambah kecantikannya.
“ Kapan kamu jadian sama dia?.”
“Waktu kemarin kamu bilang akan bertunangan dengan Ahmad. Aku menerima cintanya.” Katanya sambil memperlihatkan beberapa foto saat mereka bersama dan berduaan disebuah taman yang indah. Terlihat begitu bahagianya mereka. Entah mengapa dadaku terasa sesak dan seperti tersayat-sayat pisau tajam melihat foto itu. Kebersamaan yang tak pernah aku dapatkan saat bersamanya selama ini. Dalam hatiku berbisik, sungguh beruntungnya wanita itu.

          Aku pandangi langit diluar sudah mulai gelap dan gerimispun mulai reda. Aku berpamitan untuk pulang. Aku melangkah keluar pintu rumahnya. Didepan rumahnya sudah ada ibunya yang sedang duduk diteras rumahnya bersama para pelanggan warungnya. Aku bersalaman dengan beliau dan berpamitan pulang.

          Aku mulai menaiki sepeda motor yang aku parkir didepan rumahnya. Tak tau kenapa tanganku terasa lemas. Terasa tanpa tulang yang menopang seonggok dagingku. Aku berusaha tabah meskipun hatiku terasa remuk seketik itu. Aku mulai menjalankan sepeda motorku. Menarik gas dan pergi berjalan meninggalkannya dengan perlahan namun pasti. Terasa begitu berat dan sepertinya itu sebuah pertemuan yang terakhir dan perpisahan. Tanpa aku sadari, air mata mulai menetes dan membasahi kedua pipiku. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi...??? apa yang sebenarnya aku rasakan ini, apakah ini yang namanya cinta tulus...??? apakah aku mulai jatuh cinta kepadanya atau mungkin hanya sekedar rasa dalam hati yang begitu takut untuk kehilangan sahabat terbaik seperti dirinya jika dia dimiliki orang lain...??? apa mungkin aku merasa cemburu dan terlalu egois ingin memilikinya sepenuhnya....??? aku sangat bahagia melihatnya kini bahagia sudah bersama orang yang sangat dia cintai. Tapi, kenapa semua rasa itu muncul....??? begitu sangat sakit hati ini melihatnya dengan wanita lain. Rasanya seperti luka yang ditaburi garam dan cuka. Sepanjang perjalanan pulang aku hanya bisa menangisi sesuatu yang aku sendiripun tak mengetahui penyebabnya.

          Kurang lebih sudah setengah perjalanan yang aku tempuh. Terlihat dikaca spion sepeda motorku ada dua pria yang tak aku kenal menaiki sepeda motor dengan kecepatan penuh dan mulai berjalan sejajar disamping sepeda motorku.
“Mbak, darimana kok naik motor sendirian...?.” sapa pria asing itu menggodaku.
Aku hanya diam saja sambil sesekali mengusap air mata yang terus berlinang membasahi pipiku. Orang itu masih terus menggodaku, hingga akhirnya aku berhenti ditepi jalan dan merekapun menghampiriku.
“Mas, saya mohon jangan ganggu saya!.” Kataku sambil sesekali mengusap air mata dipipiku.
“Lho mbak, kenapa nangis....?? Kami orang baik-baik. Cuma mau kenalan , jangan  nangis mbak kami nggak punya niat jahat.”
“Kalau begitu saya mohon jangan ganggu saya lagi. Jangan ikuti saya terus.....!!”

          Aku mulai melanjutkan perjalananku kembali dan merekapun berputar balik entah kemana mereka perginya. Gerimis mulai turun lagi. Sesampainya dirumah segera mandi karna badanku basah kuyup dan menunaikan ibadah sholat maghrib. 

        Sejenak aku berbaring ditempat tidur kamarku. Menatap tajam langit-langit kamar, terbayang selalu foto-foto mereka berdua yang terlihat begitu mesra. Bayangan foto itu menari-nari dimataku. Air matapun kembali mengalir dipipiku. Kali ini aku meluapkan segala yang ada didalam hati melalui tangisanku yang lepas. Tak dapat tertahan lagi.

          Tiittiitt......tiittiitt.... handphoneku berdering, kulihat ada sms dan segera ku buka. Pesan dari Ahmad ternyata, dia menyuruhku untuk menelfonnya.
“Assalamuallaikum, sayang.” Sapaku mendahului.
“Waalaikumsalam. Udah sampai dirumah belum sayang?.”
“Sudah, baru saja sampai. Badanku panas dan kepalaku pusing banget sayang. Mungkin karena kehujanan tadi.”
“Kamu tadi nggak bawa jas hujan?.”
“Bawa jas hujan kok, tapi aku buru-buru naik motornya takut sampai rumah kemalaman.”
“Emang kamu nggak bisa berhenti sebentar beberapa menit memakai jas ujan...?? kamu susah dibilanginnya. Sekarang kamu jadinya sakit kan?.”
“Iya sayang, nggak apa-apa....... nanti juga sembuh sendiri kok. ”
“Kamu tadi dari mana? Expo kampus kok sampai sore banget. ”
“Tadi aku pulang dari expo kampus mampir  kerumah temen....yang dulu pernah aku ceritain ke kamu. ”
“Ngapain aja disana sampe sore banget kayak gini?. ”
“Biasa lah sayang, silaturahmi sambil cerita-cerita tentang pasangan masing-masing. ”
“Kamu itu kebiasaan kayak gitu. Tiap ada masalah kamu cerita ketemen-temen kamu. Maksut kamu apa kayak gitu....??.”
“Aku cuma minta saran dari dia. Iya, aku salah. Aku minta maaf. Aku cuma kesepian, butuh teman ngobrol. Aku ingin mandiri, nggak selalu ngeluh ke kamu. Aku nggak mau ganggu kesibukan kamu. Aku nggak mau ngrepotin kamu. Aku selalu mencoba ngertiin kamu.”
“Kamu selalu berbuat salah. Baguslah.....kalau kamu merasa salah dan mengetahui kesalahanmu.”
“Apa saja salahku kepadamu sayang.....??.”
“Pikir saja sendiri. Apa saja kesalahan yang sudah kamu perbuat. Katamu tadi kamu tau kamu salah. Berarti kamu udah tau kan salahmu apa?”
“Aku nggak bisa menilai diri aku sendiri. Aku bingung apa saja kesalahanku....? selama ini aku selalu mencoba memberikan pengertian, perhatian dan kepercayaanku sepenuhnya kepadamu. Aku sangat kesepian, tapi aku bisa mengakalinya dengan membaca buku dan mencari kesibukan lainnya supaya hilang semua kejenuhan yang aku rasakan. Aku menyimpan dan menceritakan semua masalahku lewat tulisan atau sekedar bercerita dengan orang yang aku percayai karna aku nggak mau mengganggu waktumu. Aku tau kamu sangat sibuk. Semua itu demi kamu. aku selalu mengerti dengan keadaanmu, tapi kenapa aku selalu salah dimatamu....?? maafkan aku, belum bisa membahagiakan kamu selama ini. Aku hanya bisa memberi luka. Maafkan aku sayang, aku ingin sendiri saja. Tak tahu entah sampai kapan.”
“ Terserah kamu......aku ikuti saja semua kemauan kamu. Bila memang itu keputusanmu....!!!.”

          Hening, senyap, hanya suara jangkrik yang terdengar. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulut kita. Sampai telfon pun mati dengan sendirinya karna pulsa atau paket telfon yang habis.



                   SELESAI