daun

Wednesday, 24 June 2015

RENUNGAN SUAMI & ISTRI

“Assalaamu’alaikum…!” Ucapnya lirih saat memasuki rumah.
Tak ada orang yang menjawab salamnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur. Biar malaikat yang menjawab salamku,” begitu pikirnya.
Melewati ruang tamu yang temaram, dia menuju ruang kerjanya. Diletakkannya tas, ponsel dan kunci-kunci di meja kerja.
Setelah itu, barulah ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Sejauh ini, tidak ada satu orang pun anggota keluarga yang terbangun. Rupanya semua tertidur pulas.
Segera ia beranjak menuju kamar tidur. Pelan-pelan dibukanya pintu kamar, ia tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadirannya.
Kemudian Amin duduk di pinggir tempat tidur. Dipandanginya dalam-dalam wajah Aminah, istrinya.
Amin segera teringat perkataan almarhum kakeknya, dulu sebelum dia menikah.
Kakeknya mengatakan, jika kamu sudah menikah nanti, jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan maumu. Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.
Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda. Bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.
Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu, atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka lihatlah ketika istrimu tidur....
“Kenapa Kek, kok waktu dia tidur?” tanya Amin kala itu.
“Nanti kamu akan tahu sendiri,” jawab kakeknya singkat.
Waktu itu, Amin tidak sepenuhnya memahami maksud kakeknya, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut, karena kakeknya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri.
Malam ini, ia baru mulai memahaminya. Malam ini, ia menatap wajah istrinya lekat-lekat. Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin membuncah perasaan di dadanya. Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima. Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat. Pancaran tulus dari kalbu.
Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan. Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.
Dalam batin, dia bergumam,
“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis yang leluasa beraktivitas, banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Aku yang menjadikanmu seorang istri. Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit. Memberikanmu banyak batasan, mengaturmu dengan banyak aturan.
Dan aku pula yang menjadikanmu seorang ibu. Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan. Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.
Wahai istriku, engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban, aku yang memberikan beban di tanganmu, dipundakmu, untuk mengurus keperluanku, guna merawat anak-anakku, juga memelihara rumahku.
Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku. Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku, kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku, kau buang egomu untuk menaatiku, kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.
Wahai istriku, di kala susah, kau setia mendampingiku. Ketika sulit, kau tegar di sampingku. Saat sedih, kau pelipur laraku. Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku. Bila gundah, kau penyejuk hatiku. Kala bimbang, kau penguat tekadku. Jika lupa, kau yang mengingatkanku. Ketika salah, kau yang menasehatiku.
Wahai istriku, telah sekian lama engkau mendampingiku, kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.
Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu?
Dengan alasan apa aku perlu marah padamu?
Andai kau punya kesalahan atau kekurangan, semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan airmata.
Akulah yang harus membimbingmu. Aku adalah imammu, jika kau melakukan kesalahan, akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu. Jika ada kekurangan pada dirimu, itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah. Karena kau insan, bukan malaikat.
Maafkan aku istriku, kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan. Mari kita bersama-sama untuk membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Allah azza wa jalla.
Segala puji hanya untuk Allah azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodohku.”
Tanpa terasa air mata Amin menetes deras di kedua pipinya. Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.
Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan. Tak lama kemudian ia pun terlelap.
***

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.
Aminah, istri Amin, terperanjat
“Astaghfirullaah, sudah jam dua?”
Dilihatnya sang suami telah pulas di sampingnya. Pelan-pelan ia duduk, sambil memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.
“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatangannya. Hari ini aku benar-benar capek, sampai-sampai nggak mendengar apa-apa. Sudah makan apa belum ya dia?” gumamnya dalam hati.
Mau dibangunkan nggak tega, akhirnya cuma dipandangi saja. Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya. Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya hatinya yang bicara.
“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku. Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku. Begitu besar harapan kusandarkan padamu. Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.
“Wahai suamiku, ketika aku sendiri kau datang menghampiriku. Saat aku lemah, kau ulurkan tanganmu menuntunku. Dalam duka, kau sediakan dadamu untuk merengkuhku. Dengan segala kemampuanmu, kau selalu ingin melindungiku.
“Wahai suamiku, tidak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku. Tidak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu. Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal tidak menyurutkan langkahmu. Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri, demi aku dan anak-anak.
“Lalu, atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu, dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu? Seberapapun materi yang kau berikan, itu hasil perjuanganmu, buah dari jihadmu.
Jika kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku, tapi kesungguhanmu beramal shaleh membanggakanku.
Tekadmu untuk mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan Allah azza wa jalla serta membahagiakanku.
“Maafkan aku wahai suamiku, akupun akan memaafkan kesalahanmu.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah azza wa jalla yang telah mengirimmu menjadi imamku. Aku akan taat padamu untuk mentaati Allah azza wa jalla. Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

Monday, 15 June 2015

Kepada Calon Ibu Mertuaku, dari Gadis yang Akan Segera Mendampingi Putramu

Ibu, sebentar lagi anakmu akan bertambah satu. Bukan karena Ibu akan melahirkan untuk kesekian kalinya — tentu tak mungkin mengingat usia Ibu yang tak lagi muda — namun karena putra Ibu yang sudah dewasa akan segera mempersunting seorang wanita.
Aku bersyukur bahwa wanita itu adalah aku. Akulah yang akan menjadi anak Ibu yang baru.
Terima kasih, Ibu, karena sudah mempercayakan putramu kepadaku.
Terima kasih, karena sudah merawat dan membesarkannya dari kecil hingga dewasa
Kini giliranku yang akan mendampinginya. Terima kasih, Bu, telah merelakannya.
Ibu, terima kasih karena mau membuka hati dan menerimaku ke dalam lingkar keluarga. Tahukah Ibu betapa jantungku berdegup kegirangan ketika Ibu mau menyambutku dengan tangan terbuka? Ya, aku tak pernah mengira jika tanggapan Ibu kepadaku akan begitu hangatnya. Apalagi karena aku gadis yang biasa-biasa saja.
Aku ingat ketika kali pertama aku diajak berkunjung ke rumah Ibu. Aku gugup luar biasa, takut jika Ibu akan menolakku. Namun nyatanya ketakutan hanya ada dalam lingkar kepalaku saja.
Saat kali pertama aku tiba, Ibu langsung menyambutku dengan tangan terbuka. Ibulah yang membuka obrolan, memahamiku yang saat itu sedang dilanda kegugupan. Di kunjunganku yang berikutnya Ibu tak pernah alpa untuk duduk bersamaku dan membicarakan ini-itu. Bahkan, Ibu dengan repotnya bersedia membuatkan banyak rupa makanan untuk kubawa pulang.
Sekali lagi terima kasih Bu, sudah mau menerima gadis biasa saja seperti aku masuk ke dalam lingkar keluargamu.
Harus kuakui, Bu, aku memang gadis yang biasa saja. Aku tak pandai memulas bedak dan mengoleskan gincu. Selera pakaianku juga tidak istimewa. Pakaian yang kukenakan selalu itu-itu saja, tak lepas dari kaos, celana jeans, dan sepatu kets. Bahkan, aku juga tidak terlalu mengikuti gaya berpakaian gadis jaman sekarang.
Untuk urusan dapur, aku juga tak begitu lihai. Masakan andalanku hanyalah nasi goreng yang dibalut dengan telur mata sapi. Walaupun terkadang aku mencoba membuat tumis kangkung yang hasilnya jauh dari sempurna karena selalu kelebihan garam. Maafkan aku karena belum bisa menyiapkan santapan lezat sarat gizi yang biasa kau sediakan untuk putramu.
Jika dibandingkan dengan gadis lainnya, aku memang kalah menawan. Namun, Ibu tidak usah meragukan kadar cintaku kepada putramu. Ya, aku mencintainya dari lipatan hatiku yang paling dalam. Aku berjanji pada Ibu bahwa dengan segala kekurangan yang aku miliki aku akan membahagiakan putra kesayanganmu.

Ibu, di balik kekurangan yang aku miliki, aku selalu ingin belajar. Ya, aku ingin menjadi istri yang istimewa bagi calon suamiku. Aku mulai belajar mengenal ragam rempah-rempah dan membiasakan meracik bumbu di dapur. Bersediakah Ibu membagikan resep makanan kegemaran putramu? Aku ingin suamiku nanti bisa makan dengan lahap ketika menyantap kudapan buatanku.
Aku juga ingin Ibu tahu bahwa ada banyak hal dari ibu yang ingin aku tiru. Ya, aku ingin tangguh dan serba bisa seperti ibu. Diam-diam aku juga memendam keinginan untuk membekali diriku dengan ilmu menjahit, kegiatan yang biasa Ibu lakukan demi mengisi waktu luang. Supaya nantinya aku bisa membuatkan calon buah hatiku baju mungil berlogo nama lahirnya sebagaimana Ibu selalu membuatkan putramu baju-baju lucu nan menggemaskan ketika ia masih bayi.
Ibu, sebentar lagi hari bahagiaku dan putramu akan segera tiba. Ya, kami akan saling mengucap janji sehidup semati di depan ratusan pasang mata. Kami akan saling menautkan jemari hingga usia kami menua. Aku akan menjadi teman hidupnya yang akan selalu menemani dan sedia di sampingnya. Menemaninya melewati masa-masa suka maupun masa terendah dalam kehidupan. Ya, aku berjanji akan selalu ada di sisinya dalam kesenangan maupun saat duka datang bertandang.
Ibu tidak usah khawatir, saat nanti putramu sudah menjadi suamiku, kami masih akan sering berkunjung. Aku juga akan selalu menyempatkan diri untuk menelpon Ibu demi menanyakan kabar serta menentramkan hati Ibu. Putra Ibu tidak akan kemana-mana, ia masih akan menjadi putra kesayangan Ibu.
Ibu, tidak usah cemas jika aku akan menggantikan posisi ibu.
Karena memang ada dua tempat di lipatan hati calon suamiku.
Untukku, wanita yang akan mendampinginya dan untuk Ibu, wanita yang telah melahirkannya ke dunia.

Dariku,
Gadis sederhana yang sudah siap mendampingi hidup putra kesayanganmu

Sunday, 14 June 2015

MENEMPUH HIDUP YANG BARU.,.,.,. !!!!

Bismillah,,.. 
Malam yang sunyi ini,.,,.menemaniku dalam renungan doa malam. Aku tak mampu perpikir diantara aku harus bahagia dengan hari esok ataukah merana karna hari kemarin. 
Hari esok adalah hari dimana masa depanku terpampang jelas di depan mata ini. 
Dia... pria yang mencintaiku setulus hati, telah siap menyerahkan hidupnya sepenuhnya hanya untuk diriku.
Dia... pria yang memberikan segenggam tekat menjalani kehidupan bersamaku untuk sekarang, besok, dan seterusnya.
Dia... pria yang siap membimbingku untuk menuju surga terindah-Nya Allah.
Dia... pria yang memanggilku dengan sebutan ibu dari anak-anaknya nanti. 
Dia... pria yang akan selalu menjagaku bersama keluarga kecil kami nanti.
Dia... pria yang sempurna untukku.
Kita dalam doaku akan bersama hingga maut menjemput kami. karna dia cahaya terterang yang ada saat ini, menyambutku dengan senyuman, menggandeng tanganku menuju satu tujuan yaitu keluarga sakinah, mawadah, warohmah.

Hari kemarin adalah hari dimana cinta yang belum usai. Cinta yang masih tersimpan untuk selalu terkenang dan selamanya akan jadi kenangan. Cintanya mungkin sudah tak aku miliki lagi. Dia mungkin sudah bahagia dengan yang dia cintai sekarang. Aku akan selalu menjaga kenangan itu sebagai sejarah hidupku yang terindah. karna cintanya dulu sudah pernah membuatku tersenyum bahagia, kuat ketika merasa putus asa. cintanya pernah membuatku bangkit dari keterpurukan, tapi semua itu sirna terhempas embun kala pagi demi pagi tiba. kenangan yang dulu adalah sejarah hidup yang tertulis rapi untuk aku jalani, mengambil hikmah dari semua yang pengalaman hidup. cinta yang datang silih berganti dalam hidupku. semoga memang inilah pelabuhan cinta yang kutuju  terakhir. semoga ini memang jalan takdir yang Kau tuliskan untukku hambamu ini. satu hal yang selalu ku genggam teguh sampai hari ini,aku percaya bahwa " kalau jodoh, tuhan pasti akan mempertemukan kita"


BISMILLAH,.,.,. MEMBUKA LEMBARAN BARU,.,.. MENEMPUH HIDUP YANG BARU

Thursday, 11 June 2015

Walau Dulu Rasa Cinta Pernah Ada, Kini Aku Telah Merelakanmu Bersama yang Lainnya

Untukmu, punggung yang selalu kunikmati dari kejauhan.
Dulu sekali, rasa cinta memang sangat akrab dan sering bergelayut manja di rongga hatiku. Selalu berhasil membuatku meremang ketika sosokmu tak sengaja tertangkap oleh mata. Ya, hanya mataku memang yang bisa menikmatimu. Sementara tangan dan bibirku harus rela meredam keinginannya untuk mengecup serta mendekap. Namun tak mengapa, toh aku masih bisa menikmati punggungmu dari kejauhan.
Asal kau tahu, mendoakanmu diam-diam juga selalu menjadi ritual wajibku tiap petang. Walau kemudian kini telah ada sosok manusia lain di sisimu yang juga turut serta aku doakan.

Lama memang aku tak bersua dengan dirimu. aku pun sempat kehilangan rekam jejakmu. Aku menyukaimu memang, tapi tak menjadikanku sosok yang gemar menguntit karena ingin tahu keseharian dirimu. Sesekali, harus kuakui, aku sengaja menyasarkan diri ke beberapa akun media sosial milikmu. Sekedar mengintip apa kegiatan atau curahan hati yang kau tuliskan di sana. Ah, dan tentu saja sekaligus mengobati rindu yang entah sudah sedalam apa guratannya.
Walau jarang melihatmu namun aku tetap mengencangkan sinyal di kepalaku supaya bisa menangkap berita apapun seputar dirimu. Pada akhirnya, kabar yang enggan kudengar sampai juga. Kata suara-suara yang dihembuskan oleh angin dan hinggap di telingaku, dirimu tak lagi sendiri karena telah ada sosok yang mendampingi. Ada tangan manusia lain yang mengisi kekosongan di antara jemarimu.
Banyak tanya sering beterbangan di dalam rongga dadaku,
“Bahagiakah dirimu bersama dengannya? Sempurnakah sosoknya yang kini mengisi hari-harimu?”
Entah mimpi apa aku semalam, bertemu denganmu merupakan hal terindah yang kubayangkan saja aku tak punya cukup nyali. Kau masih nampak seperti dulu, rupawan tanpa perlu banyak hiasan. Kau melihatku yang sedang duduk diam di pojokan, aku yang tentu saja sedang terpana melihat keajaiban Tuhan. Kau melambaikan tangan dan mempersembahkan senyum untukku. Selanjutnya kau pun melangkahkan kaki ke arahku, membuka obrolan ringan mengenai kabar, pekerjaan, dan entah apa. Aku tak ingat benar, aku hanya mampu menjawab ‘ya’ dan ‘tidak’ selebihnya perhatianku tersedot habis pada sosokmu, pada senyummu.
Pertemuan singkat di senja hari itu kembali lagi membuka kenangan yang sudah kusimpan rapat. Walau kita tak terlalu akrab, kau mengetahui sosokku dengan baik, walau tentu saja tak sebaik aku mengenalmu. Aku selalu hapal senyuman manis yang tersungging di bibirmu. Hapal pula pada setiap hal yang kau suka dan kau benci. Tahu benar segala bahasa tubuhmu.
Kita memang saling mengenal, tentu saja, namun hubungan yang terjalin di antara kita tak terlalu lekat. Ya, bagaimana bisa aku mengakrabkan diri padamu jika melihatmu dalam jarak dekat saja jantungku sudah meronta ingin keluar dari tempatnya? Kaki ini pun tak bisa diajak berkompromi karena mendadak lemas dan tak mampu menopang bobot tubuhku. Aku pun tak bisa berhenti melakukan kebodohan karena dilanda kecanggungan. Mungkin itulah alasannya mengapa aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan dan kita hanyalah sebatas teman.
Aku paham benar kau dan aku memang diciptakan untuk tak menjadi satu. Oleh karena itulah, aku pun tak pernah menyalahkan Tuhan maupun keadaan. Aku percaya selalu ada beribu alasan baik di baliknya. Menikmatimu dari kejauhan saja sudah membuatku mengucap syukur dalam-dalam. Tentu aku tak akan menjadi hamba yang tak baik pada Tuhan dengan memaksa memintamu untuk menjadi milikku.
Kata sinetron layar kaca dan buku roman yang pernah kubaca, jika memang kau mencintai orang itu benar-benar maka kau harus merelakannya. Membiarkannya berbahagia dengan orang pilihannya. Ah, sebut saja aku tolol dan melankolis, tapi memang sepertinya itulah yang akan kulakukan. Menjagamu dari jauh, mengirimkanmu doa yang tak putus.
Hingga detik ini ada dan tulisan ini selesai kubuat, kau memang tak pernah menjadi milikku. Kita hanya sebatas teman, itupun tak begitu lekat. Namun justru dengan itulah aku bisa memetik dan mengunyah ilmu baru. Aku belajar bagaimana cara melapangkan hati. Bagaimana mengikhlaskan orang yang dikasihi pergi. Sungguh, walau dulu aku pernah begitu memujamu, namun kini telah kurelakan dirimu bersanding dengan yang lainnya.
“Akan selalu ada setangkup doa untukmu di tiap senja. Dimanapun dirimu berada, semoga kau tidak lupa untuk bahagia.”

Wednesday, 10 June 2015

aku juga wanita

Wanita mampu menangis dalam tawanya.
Wanita juga mampu tertawa dalam tangisannya.
.
Terkadang wanita mampu tersenyum sepanjang Hari
Tapi menangis dalam kesendirian
di sepanjang malam ..
.
Saat sedang bermasalah wanita berkata:
"Aku baik-baik saja" padahal kenyataannya hati
wanita hancur berkeping-keping. Mereka sedikit kesulitan
mengucapkan isi hatinya, Lukanya,
bahkan semua yang membuatnya terluka. Jika pun mereka bisa
mengungkapnnya mereka tidak mampu
mengungkapkan
semuanya, selalu ada yang tersisa untuk di ungkapkan..
.
Karena dalam kondisi seperti apapun wanita masih
memikirkan perasaan pria nya.
Mereka tidak ingin pria nya sedih dan ragu meskipun di saat
bersamaan hatinya sudah hancur lebur. .
Bagai kapas yang berterbangan yang sulit untuk di
satukan kembali dalam sebuah hati yang utuh.
.
Setegar dan sekuat apapun wanita, dia pasti
menangis. Entah dengan atau tanpa aliran air mata. Dalam setetes air matanya ada jutaan kata penuh
makna yang tak mampu terucap.
Kepada semua orang ia mampu tersenyum, tapi
Hanya untuk orang yang ia sayangilah ia menangis.
.
Wanita adalah makhluk Allah penuh makna. Jangan sakiti wanita karena wanita di ciptakan
bukan untuk di sakiti Dia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, layak
untuk dilindungi dan disayangi Keinginan hanya satu, Pengertian dari orang yang ia cintai.^^

ehm

Seberapa TULUS seseorang mencintaimu akan kau
ketahui saat dia melihat apapun keadaan
dirimu,bahkan saat kondisi
TERBURUKMU..
.
Seseorang yang TULUS mencintaimu TAK KAN MENINGGALKANMU karena KEKURANGAN
yang ada pada dirimu.
Karena baginya adalah LADANG IBADAH untuk menuntunmu ke arah yang lebih baik, bukan
membiarkanmu terpelosok dalam lumpur dosa..
.
Baginya, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan dia.
Kebaikanmu adalah kebaikan dia.
Mampu menorehkan lembaran berharga untukmu adalah impiannya..

Thursday, 4 June 2015

KATA2 selama 3 bulan(april,mei,juni) yg terpendam dlm catatan handphone

Mungkin dia hanya belum sadar, meninggalkan orang yang tulus itu merugikan.

Malam ini tak seindah dulu. dulu saat kamu masih jadi yang teristimewa dihatiku~

belajar sabar, sabar menghadapi sifat egois kamu :'|

"Aku memikirkan masa depanku dan kamu"

Ya Tuhan. terimakasih atas nafas kehidupan yang telah kau berikan hingga saat ini

Saat aku mulai serius ngejalanin hubungan kenapa kamu malah ninggalin aku? :'(

Sayang sih tapi bukan berarti boleh menggenggam (hati) terlalu erat :')

Mungkin ini memang salahku yang terlalu peka dengan semua aksi tebar pesonamu~

Mungkin ini bukan cinta. karena terlalu sakit saat ku genggam~

Perasaan sayang ke kamu sih masih ada, cuma kamu aja yang beda :(

Saat aku masih menjadikanmu satu-satunya, kamu ke mana?

seharusnya rindu itu diawali dgn sebuah pertemuan. dipisahkan dgn jarak. kemudian diakhiri lagi dengan pertemuan yg membahagiakan.

mempertahankan hubungan itu susah. apalagi saat dia yang memulai untuk melepaskan :'|

Cinta itu buta. Makanya kita butuh hati untuk melihat seberapa dalamnya cinta tersebut

semoga kita semua bisa bahagia dihari ini.. amin!

namanya juga sakit hati. akan terus sakit jika tidak diobati~

pernah berusaha untuk melupakanmu, namun semua sia-sia :')

Bukan soal ganteng atau cantik, klo urusan hati itu soal kenyamanan.

Perempuan harus pemalu. Malu jika sedikit-sedikit mengeluh, curhat sana sini dan banyak menuntut.

Cinta memang aneh. Kita menyukai seseorang, namun tidak tau apa alasannya :')

baru ketemuan aja masih kangen. :')

kalau hatinya masih berantakan ya diberesin dulu.. biar orang berikutnya yang mau tinggal bisa ngerasa nyaman dan betah

Demi apa pun aku kangen kamuuuu..... :')

"karena memberi tak harus mengharap kembali. cinta dengan keikhlasan memang indah"

bersyukur karna telah mengenalmu, membuatku mengerti arti 'indah' sebenarnya :)

tidak ada yang berpisah, hanya berbeda dimensi - habibie

Rindu bukanlah lautan tak bertepi, selalu ada hati setia menanti, meski itu hanyalah karang sepi.

Namanya juga manusia, kadang kangen, kadang abis ketemu malah tambah kangen.

Cinta itu takan menyakitimu, malah akan membuatmu bahagia. Asalkan kita bisa menjalani dan membawanya dengan baik..

Menurutmu mencintai itu mudah, tapi menurutku mencintai itu butuh proses. Seperti proses melupakan masa lalu..

Harapan itu harus ada, namun jika tanpa ada usaha buat mengejar harapan itu, akan terlihat percuma

Sadar dong, aku tuh sayang kamu lebih dari temen biasa..

Aku yg sayang padamu, tapi dia yg lebih kamu pilih...

Sadari aku ini buka manusia sempurna yg bisa memberi semua apa yg kamu mau

I still loving you

Sepi sendiri, terlupakan.. Kau menghilang begitu saja :(

Suatu hari,, kalian yg meremehkanku akan tertunduk malu saat melihatku lebih sukses dari kalian..

Terlalu memimpikanmu, merindukan hadirmu, walaupun ku tau kamu sudah tak mungkin bisa menerimaku kembali..

Kadang untuk mengingatmu kembali pun buat aku harus membuka luka lama yg sudah ku simpan..

Senyumlah, tinggalkan sedih. Bahagialah, lupakan takut. Sakit yang anda rasakan, tidak setara dengan bahagia yang akan anda dapatkan.

Ikuti saja kata hatimu, jika itu baik untukmu, kerjakan! Tp jika tidak, tinggalkan saja..

Kadang mantan itu suka pura-pura cuek, pedahal dia suka diem-diem merhatiin kita..

Setiap apa yg kemu perjuangkan sungguh² pasti akan kamu capai pada waktunya..

Coba dengarkan sejenak suara hatiku, jika kamu benar mencintaiku, kamu takan pernah berniat menyakitiku..

Ada damai disetiap ku melihat senyummu..

Apa yg kamu miliki saat ini adalah apa yg kamu perjuangkan sebelumnya.. Syukuri lah..

Cintamu itu takan pernah kurasakan lg, senyummu takan pernah ku lihat lg. Karna kau telah pergi jauh meninggalkan hati ini..

Sudahlah jgn pernah membahas kembali cerita lalu kita, karna aku tak ingin lagi terluka oleh rasa cinta itu...

Harusnya kamu tau bahwa hati ini hanya untukmu :(

Tuhan takan pernah membiarkan rasa sakitmu melebihi rasa bahagiamu..

Apapun akhirnya nanti, yg ku bisa lakukan saat ini hanya terus berusaha menjaga hati dan berusaha membahagiakanmu..

Jika hanya kerinduan yg kumiliki, biarlah. Semoga cinta itu akan kumiliki nantinya..

Mampukah aku melihatmu bahagia dengan orang lain.. Jujur, aku tak sanggup

Kadang hati ini ingin teriak "aku benci kamu" tapi hati ini tak bisa berbohong, cuma kamu yg aku cintai

Hati itu ga bisa dibohongin, mulut sih bilang benci, tapi hati teriak sayang.

Selamat pagi buat kamu yg sampai sekarang masih saja mencintaiku.

Aku masih tetap disini, menunggu harapan cinta yg mungkin takan pernah berpihak padaku..

Jika cinta, jgn pernah kamu pendam.. Jika saatnya kamu terlambat, kamu cuma dapat sebuah penyesalan

Kesetiaan dan kejujuran yg aku harapkan darimu...

Jika cinta mu tak bisa kudapatkan, biarlah, tp ijinkan aku tuk terus mencintaimu..

Sesaat kuteringat begitu bahagianya aku dulu, sebelum kamu pergi dgn pilihan hidupmu..

Menurutmu mencintai itu mudah, tapi menurutku mencintai itu butuh proses. Seperti proses melupakan masa lalu..

Jika saja aku memiliki satu kesempatan lagi,, aku hanya tak ingin menyia-nyiakan cinta yg pernah kmu berikan

Tuhan tau, apa yg kita butuhkan... Baik atau tidaknya menurut kita,, itu keputusan Dia yg terbaik.

Ga pernah lelah buat nunggu kamu mencintaiku lagi..

Jgn pikir ketika kamu bisa menyakitiku kamu itu terlihat hebat! Ingat, saat itu kmu telah kehilangan orang yg benar² mencintaimu.

Hanya ini yg kumiliki, hati yg sudah memilihmu sejak dulu, memilih untuk menjadi pendamping hidupku..

Pingin tau seberapa seringnya kamu tertawa bahagia, ketika aku sudah tak ada disampingmu lagi..

Move on itu ngga susah ko! Cuma kadang beberapa orang males buat berusaha move on, beberapa orang jg ada yg CEPET move on :|

Paling sebel kalau kamu udah mulai cuek kaya gini..