Adzan
subuh berkumandang, mataku berusaha mengumpulkan tenaga untuk memandang
terangnya lampu kamarku. Sayup-sayup terdengar ditelingaku kumandang Adzan
subuh. Segera aku bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh.
Hari ini
hari minggu. Waktunya beristirahat dari semua rutinitas pekerjaan dan berolah
raga pagi untuk mengembalikan kebugaran badan dan refreshing pikiran. Aku
bersepeda mengelilingi desaku yang masih asri ini. Sepeda ku kayuh meninggalkan
rumah dengan bacaan basmallah. Dinginnya pagi itu membuatku terhanyut dan
tenggelam dalam lamunan panjang. Teringat pertengkaran hebat yang terjadi tadi
malam, sehingga membuatku harus meneteskan air mata. Ahmad nama orang yang
sangat aku kasihi dan sayangi. Entah mengapa beberapa hari ini selalu
marah-marah tanpa alasan yang pasti dan jelas. Membuat aku terlalu sering
menyimpan pilu dalam hati.
Teringat selalu kata-kata yang keluar dari mulutnya
membuat hatiku terluka.
“Aku mencari wanita untuk aku
jadikan pendamping hidupku kelak dan hingga akhir hayatku. Yang mau
mendengarkan dan mau ku bimbing menjadi wanita yang baik dan pantas untuk
menjadi istri yang solehah. “ katanya dari dalam telfon yang aku genggam dengan
nada yang agak meninggi.
“Aku minta maaf sayang. Aku tahu
aku salah. Membeli handphone tanpa seizin kamu. Tapi, itu aku lakukan untuk
menolong temanku yang sedang terdesak membutuhkan uang. Saat itu pula kamu
sedang sibuk dengan pekerjaanmu.” Ucapku membela diri.
“Terus apa maksut kamu memposting
pin BBMmu di facebook?”
“Aku hanya memberikannya kepada
beberapa temanku di facebook. Itupun nggak lama, Cuma beberapa menit. Setelah
itu aku hapus.”
“Kalau kamu tidak bisa aku
bimbing ya sudah, terserah kamu saja.”
Piiiieeeemmm.....piiieeeemmm.....
suara klakson mobil menyadarkanku dari lamunanku. tanpa aku sadari posisi
sepeda yang aku naiki tepat ditengah jalan. Sesegera mungkin aku mengarahkan
sepedaku ketepian jalan. Sang matahari mulai memancarkan sinar terangnya.
Semakin cepat ku kayuh sepeda untuk segera pulang kerumah.
Tanggal 1 februari 2015. hari ini
ada expo kampus di SMA Negeri 1 Tipa. Aku siap-siap bergegas untuk datang ke
acara itu. Dengan agak tergesa-gesa karena acranya jam 10, aku mempercepat laju
sepeda motor yang ku naiki. Sesampainya di SMA Negeri 1 Tipa, aku segera
memarkirkan sepeda motorku. Sambil berlarian kecil aku menuju ruang expo. Di
tempat expo kampus aku bertemu dengan beberapa teman lamaku. Mereka kuliah di
beberapa universitas yang ada dalam expo kampus itu. Beberapa diantaranya ada
yang dari UNNES, UNS, UI, UMS, UIN, UNY, USM, IKIP PGRI dan masih banyak lagi.
Setelah asyik bercengkrama dan reunian kilat dengan teman-teman lamaku. Aku
mencoba mencari seseorang yang sejak tadi aku datang, belum nampak batang
hidungnya. Bruri,iya.... Bruri namanya, sahabat terbaikku yang sudah aku kenal
selama kurang lebih empat tahun ini.
Aku
mengambil handphone dari dalam kantong celanaku dan segera menelfonnya.
“ Kak, kamu dimana?”
“ Aku dirumah ai.”
Tuuuutttt.......tuuutttt.......tiba-tiba
telfonku mati. Karna sinyal yang jelek.
Tanpa
membuang-buang waktu lagi, segera aku keluar dari ruang expo dan berjalan
ketempat parkiran sepeda motor. Belum sampai aku ketempat parkir sepeda motor,
hujan lebat mengguyur SMA Negeri 1 Tipa dengan sangat derasnya. Aku mencoba
mengirim pesan kepada Bruri.
“ Mungkin aku kerumah kamu agak
sorean kak. Karna disini ujan deres banget.”
Lama aku menunggu balasan sms
darinya yang tak kunjung masuk ke handphoneku. Akhirnya aku berfikir untuk
menelfonnya saja.
“ Assalamuallaikum kak, lagi
dimana? Aku ntar kerumahmu ya.......?!”
“waalaikumsalam, iya.” Jawabnya
singkat dan terkesan cuek dan acuh tak acuh.
“ Kamu kenapa sih kak, bersikap
gitu sama aku? Kalau kamu nggak ngebolehin aku kerumah kamu, bilang saja.”
“ Iya, kamu kesini aja. Tadi aku
dipanggil ibu diajak ngomong ibu makanya aku jawabnya singkat. Kamu kenapa sih,
dari kemarin marah-marahin aku terus?.” Segera aku menutup telfonnya.
Sejenak
aku berfikir, memang aku sangat keterlaluan kepadanya beberapa hari ini. Setiap
pertengkaran yang terjadi antara aku dan Ahmad. Aku selalu saja menceritakannya
kepadanya, apapun keluh kesahku. Semua aku curahkan sepenuhnya kepadanya,
selama ini dia selalu bisa memahami perasaanku dan aku menyayanginya melebihi
dari sekedar teman biasa. Aku merasa nyaman dan tenang berada disisinya. Tapi,
sudah hampir seminggu ini aku selalu bersikap sinis ,judes dan cenderung
menghakiminya tanpa tahu apa salahnya. Apa mungkin aku melampiaskan kemarahanku kepadanya karna
efek pertengkaranku dengan Ahmad....??? jadinya dia yang kena imbasnya.
Mungkin,iya.....mungkin saja begitulah yang terjadi. Aku harus meminta maaf
kepadanya.....iya harus dan wajib.
Aku
melihat jam yang ada di handphone yang ku genggam tertera 14:20. Hujan mulai
reda meninggalkan gerimis dan genangan air dimana-mana. Aku mengendarai sepeda
motor dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam. Sesampainya didepan rumahnya, aku
melihat ada 3 orang pelanggan yang duduk didepan warung usaha ibunya. Ku coba
mengetuk pintu dan mengucap salam. Seorang pria keluar dari dalam kamar, yang
letaknya terlihat dari depan pintu depan. Orang itu yang sering aku panggil kak
Bruri.
“Duduk ai.....!!.” sapanya
singkat, mempersilahkan aku duduk.
Dia memang memanggilku dengan
panggilan akrab “Ai”. Katanya dulu siiiihhhh...... aku seperti istrinya nabi
Muhammad SAW yang namanya Aisyah yang super duper cerewetnya.Hehehehe.....
tanpa
basa-basi aku langsung duduk. Tak lama kemudian ibunya keluar dari dalam,
akupun bersalaman dengan beliau.
“eh kamu ndri, udah lama?.”
“Barusan aja bu.” Jawabku singkat
dengan melempar senyuman ramah.
Kak Bruri
memandangiku yang dari tadi hanya diam saja.
“Kamu kenapa Ai?”
“ Nggak....., aku nggak
apa-apa!!.”
“Aku tadi nggak ikut expo kampus
setelah tau kamu mau datang kerumahku.”
“Maaf kak, aku nggak tau.”
“Kamu kenapa Ai, sering
marah-marah?.” Sambil mengambil gitar yang ada di pojok ruang tamu.
“Aku Cuma bingung kak, Ahmad
akhir-akhir ini sering marah-marah kepadaku. Aku capek kayak gini terus, kak.
Aku ingin menjadi diri aku sendiri, tanpa harus berpura-pura manis dan tegar
dihadapannya, menahan semua luka dihatiku, Melawan kesepian tanpa hadirnya
disaat aku membutuhkannya. Hanya karna aku tak ingin membuatnya sedih dan
menambah beban pikirannya. Aku memilikinya tapi aku merasa sendiri.”
“Tapi kamu mencintainya kan, Ai....???.”
sambil memetik gitar berirama sebuah lagu.
“Iya kak, aku sangat
menyayanginya. Rasa sayangku yang membuat aku kuat dan selalu sabar. Aku yakin
mungkin sekarang aku sedang diberi cobaan untuk memperkuat rasa cinta dan kasih
sayang antara aku dengannya. Dia bekerja untuk masa depannya dan insyaAllah
juga masa depanku nanti. Dia berjuang untuk masa depannya yang indah.”
“Ya..... yang sabar aja Ai.”
Sambil masih terus memetik gitar, berasa diriku seperti penyiar radio. Berbicara diiringi dengan irama lagu-lagu.
Tiiiittttiiiittt.......tiiitttiiittt...........
handphoneku yang dari tadi aku taruh diatas meja berbunyi, menandakan ada pesan
masuk. Ku buka SMS itu, muncullah satu kalimat “ Sayang ” Dari Ahmad.
“Tuh kan.... di sms dia.” Aku
membalas dengan senyum bahagia. Sambil terus membalas sms dari Ahmad.
“Aku juga sudah punya pacar, Ai.”
Katanya sambil menunjukkan sebuah foto di handphonenya kepadaku. Ku amati foto
gadis berpipi cabi dan berkerudung warna-warni menambah kecantikannya.
“ Kapan kamu jadian sama dia?.”
“Waktu kemarin kamu bilang akan
bertunangan dengan Ahmad. Aku menerima cintanya.” Katanya sambil memperlihatkan
beberapa foto saat mereka bersama dan berduaan disebuah taman yang indah.
Terlihat begitu bahagianya mereka. Entah mengapa dadaku terasa sesak dan
seperti tersayat-sayat pisau tajam melihat foto itu. Kebersamaan yang tak
pernah aku dapatkan saat bersamanya selama ini. Dalam hatiku berbisik, sungguh beruntungnya
wanita itu.
Aku
pandangi langit diluar sudah mulai gelap dan gerimispun mulai reda. Aku
berpamitan untuk pulang. Aku melangkah keluar pintu rumahnya. Didepan rumahnya
sudah ada ibunya yang sedang duduk diteras rumahnya bersama para pelanggan
warungnya. Aku bersalaman dengan beliau dan berpamitan pulang.
Aku
mulai menaiki sepeda motor yang aku parkir didepan rumahnya. Tak tau kenapa tanganku
terasa lemas. Terasa tanpa tulang yang menopang seonggok dagingku. Aku berusaha tabah meskipun
hatiku terasa remuk seketik itu. Aku mulai menjalankan sepeda motorku. Menarik
gas dan pergi berjalan meninggalkannya dengan perlahan namun pasti. Terasa
begitu berat dan sepertinya itu sebuah pertemuan yang terakhir dan perpisahan.
Tanpa aku sadari, air mata mulai menetes dan membasahi kedua pipiku. Aku
bingung apa yang sebenarnya terjadi...??? apa yang sebenarnya aku rasakan ini,
apakah ini yang namanya cinta tulus...??? apakah aku mulai jatuh cinta
kepadanya atau mungkin hanya sekedar rasa dalam hati yang begitu takut untuk
kehilangan sahabat terbaik seperti dirinya jika dia dimiliki orang lain...???
apa mungkin aku merasa cemburu dan terlalu egois ingin memilikinya sepenuhnya....???
aku sangat bahagia melihatnya kini bahagia sudah bersama orang yang sangat dia
cintai. Tapi, kenapa semua rasa itu muncul....??? begitu sangat sakit hati ini
melihatnya dengan wanita lain. Rasanya seperti luka yang ditaburi garam dan
cuka. Sepanjang perjalanan pulang aku hanya bisa menangisi sesuatu yang aku
sendiripun tak mengetahui penyebabnya.
Kurang
lebih sudah setengah perjalanan yang aku tempuh. Terlihat dikaca spion sepeda
motorku ada dua pria yang tak aku kenal menaiki sepeda motor dengan kecepatan
penuh dan mulai berjalan sejajar disamping sepeda motorku.
“Mbak, darimana kok naik motor
sendirian...?.” sapa pria asing itu menggodaku.
Aku hanya diam saja sambil
sesekali mengusap air mata yang terus berlinang membasahi pipiku. Orang itu
masih terus menggodaku, hingga akhirnya aku berhenti ditepi jalan dan merekapun
menghampiriku.
“Mas, saya mohon jangan ganggu
saya!.” Kataku sambil sesekali mengusap air mata dipipiku.
“Lho mbak, kenapa nangis....??
Kami orang baik-baik. Cuma mau kenalan , jangan nangis mbak kami nggak punya niat jahat.”
“Kalau begitu saya mohon jangan
ganggu saya lagi. Jangan ikuti saya terus.....!!”
Aku
mulai melanjutkan perjalananku kembali dan merekapun berputar balik entah
kemana mereka perginya. Gerimis mulai turun lagi. Sesampainya dirumah segera
mandi karna badanku basah kuyup dan menunaikan ibadah sholat maghrib.
Sejenak
aku berbaring ditempat tidur kamarku. Menatap tajam langit-langit kamar,
terbayang selalu foto-foto mereka berdua yang terlihat begitu mesra. Bayangan
foto itu menari-nari dimataku. Air matapun kembali mengalir dipipiku. Kali ini
aku meluapkan segala yang ada didalam hati melalui tangisanku yang lepas. Tak
dapat tertahan lagi.
Tiittiitt......tiittiitt....
handphoneku berdering, kulihat ada sms dan segera ku buka. Pesan dari Ahmad
ternyata, dia menyuruhku untuk menelfonnya.
“Assalamuallaikum, sayang.”
Sapaku mendahului.
“Waalaikumsalam. Udah sampai
dirumah belum sayang?.”
“Sudah, baru saja sampai. Badanku
panas dan kepalaku pusing banget sayang. Mungkin karena kehujanan tadi.”
“Kamu tadi nggak bawa jas
hujan?.”
“Bawa jas hujan kok, tapi aku
buru-buru naik motornya takut sampai rumah kemalaman.”
“Emang kamu nggak bisa berhenti
sebentar beberapa menit memakai jas ujan...?? kamu susah dibilanginnya. Sekarang
kamu jadinya sakit kan?.”
“Iya sayang, nggak apa-apa.......
nanti juga sembuh sendiri kok. ”
“Kamu tadi dari mana? Expo kampus
kok sampai sore banget. ”
“Tadi aku pulang dari expo kampus
mampir kerumah temen....yang dulu pernah
aku ceritain ke kamu. ”
“Ngapain aja disana sampe sore
banget kayak gini?. ”
“Biasa lah sayang, silaturahmi
sambil cerita-cerita tentang pasangan masing-masing. ”
“Kamu itu kebiasaan kayak gitu.
Tiap ada masalah kamu cerita ketemen-temen kamu. Maksut kamu apa kayak
gitu....??.”
“Aku cuma minta saran dari dia.
Iya, aku salah. Aku minta maaf. Aku cuma kesepian, butuh teman ngobrol. Aku
ingin mandiri, nggak selalu ngeluh ke kamu. Aku nggak mau ganggu kesibukan
kamu. Aku nggak mau ngrepotin kamu. Aku selalu mencoba ngertiin kamu.”
“Kamu selalu berbuat salah.
Baguslah.....kalau kamu merasa salah dan mengetahui kesalahanmu.”
“Apa saja salahku kepadamu
sayang.....??.”
“Pikir saja sendiri. Apa saja
kesalahan yang sudah kamu perbuat. Katamu tadi kamu tau kamu salah. Berarti
kamu udah tau kan salahmu apa?”
“Aku nggak bisa menilai diri aku
sendiri. Aku bingung apa saja kesalahanku....? selama ini aku selalu mencoba
memberikan pengertian, perhatian dan kepercayaanku sepenuhnya kepadamu. Aku
sangat kesepian, tapi aku bisa mengakalinya dengan membaca buku dan mencari
kesibukan lainnya supaya hilang semua kejenuhan yang aku rasakan. Aku menyimpan dan
menceritakan semua masalahku lewat tulisan atau sekedar bercerita dengan orang
yang aku percayai karna aku nggak mau mengganggu waktumu. Aku tau kamu sangat
sibuk. Semua itu demi kamu. aku selalu mengerti dengan keadaanmu, tapi kenapa
aku selalu salah dimatamu....?? maafkan aku, belum bisa membahagiakan kamu
selama ini. Aku hanya bisa memberi luka. Maafkan aku sayang, aku ingin sendiri
saja. Tak tahu entah sampai kapan.”
“ Terserah kamu......aku ikuti
saja semua kemauan kamu. Bila memang itu keputusanmu....!!!.”
Hening,
senyap, hanya suara jangkrik yang terdengar. Tak sepatah katapun yang keluar
dari mulut kita. Sampai telfon pun mati dengan sendirinya karna pulsa atau
paket telfon yang habis.
SELESAI