daun

Saturday, 21 February 2015

Pertemuan itu

Sayang…..
malam ini dimana kita
Telah bertemu untuk melepaskan
Semua kerinduan yang selama
Ini terpendam dalam hati


Saat ini diriku telah berada disampingmu
Dan hingga kini ku ingin membahagiakanmu
Walau apapun yang terjadi aku kan
Tetap stia untukmu.


Sayang…
Genggamlah tanganku dalam kehangatanmu
Peluklah aku dalam dekapanmu
Cintailah diriku dalam tulusnya cintamu
Sayangilah diriku dalam tulusnya kasih sayangmu
Dan jagalah diriku karna aku kan selalu menyayangi
Dan mencintaimu sampai titik napasku pun berhenti

Sunday, 8 February 2015

UNTUKMU PENGGANTIKU

Kepada Sang Pengganti,

Aku pikir ada beberapa hal yang harus kau ketahui, mengingat saat ini kau adalah orang yang dia cintai.
Jangan terkejut jika kamu jatuh cinta padanya hanya dalam waktu singkat, namun jangan pula terlalu-terburu-buru untuk sepenuhnya jatuh cinta padanya.

Kita memang tidak saling mengenal, dan aku yakin bahwa kamu tidak akan langsung menyukaiku. Aku tidak akan memberi pesan untuknya lewat social media, ataupun menyukai setiap postingannya. Dia akan memanjakanmu dari waktu ke waktu, namun dia akan bersikap bijaksana akan pengeluarannya, dia hanya akan menggunakan uang jika dia perlu. Kau akan mengetahui bagaimana reaksinya ketika dia bahagia seperti seorang anak kecil dan belajarlah untuk mendengarkan tawanya.

Kau akan mengetahui film favoritnya, dan bagaimana dia terlarut dalam hal itu. Kau juga akan mengetahui bahwa dia sangat menyukainya daripada pergi jalan-jalan.

Dia akan melakukan apapun yang kau minta, dan kalian akan jarang untuk bertengkar. Dia tidak suka dengan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan dan hubungan, jadi jangan berharap darinya, namun ketahuilah bahwa dia mencintaimu. Dia mungkin tidak akan memikirkanmu setiap saat, tapi kau akan sering terlintas dalam pikirannya.

Dia memiliki mimpi yang besar yang cukup dapat dipercaya. Jadi, tugasmu adalah mengatakan betapanya tampannya dia, betapa pintarnya dia, dan bahwa ia mampu melakukan semuanya. Dia mungkin tidak akan percaya padamu, tapi jangan berhenti melakukan hal itu setiap hari.

Dia membuatmu melihat dunia dalam sudut pandang yang berbeda, dan akan ada banyak pertanyaan yang ingin kau ketahui darinya. Dia tidak bisa memasak, jadi jangan berharap akan hal itu darinya.

Ketika kalian berdua pergi keluar, dia akan memperhatikanmu sepanjang hari, seakan hanya ada kalian berdua disana. Ketika kau berdansa dengannya, itu merupakan hal yang sempurna. Dia akan memberitahu segala hal tentang masa lalunya, dan tugasmu adalah memegang erat tangannya dan berkata bahwa kau tidak menilainya sebelah mata.

Dia adalah orang yang lebih baik karena apa yang dia alami di masa lalunya, dan dia menemukanmu atas apa yang ia rasakan sebelumnya. Aku berharap kau mencintainya sebanyak yang ia pantas dapatkan, dan aku berharap dia mencintaimu sedalam yang aku pikirkan. Aku berharap dia jujur padamu, tidak seperti padaku, tapi dari semuanya, aku berharap kamu mendapatkan kisah cinta seperti dalam dongeng yang tidak kudapatkan darinya.

Ingat satu hal: bukannya aku tidak menyukaimu, tapi kalau boleh jujur, aku iri padamu.

Aku berharap suatu hari aku bisa bertemu denganmu. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kita memiliki hubungan yang tidak dimiliki oleh orang lain dan saya yakin kamu adalah orang yang baik. Dia melihat kepribadian dari seorang gadis sebelum jatuh cinta pada penampilan fisiknya. Ini adalah kualitas yang langka dalam diri seorang pria.

Aku hanya minta satu hal darimu: jangan menyakitinya seperti dia menyakitiku. Aku percaya pada karma dan aku percaya orang mendapatkan apa yang berikan pada dunia, tapi aku tidak pernah berharap bahwa rasa sakit itu menimpa pada siapapun, terutama dia. Kau berkencan dengan pria impianku dan aku benar-benar tulus ketika mengatakan bahwa aku berharap semuanya berjalan dengan lancar untuk kalian berdua.

Tuesday, 3 February 2015

*MERAIH HAMPA*




Adzan subuh berkumandang, mataku berusaha mengumpulkan tenaga untuk memandang terangnya lampu kamarku. Sayup-sayup terdengar ditelingaku kumandang Adzan subuh. Segera aku bergegas mengambil air wudhu dan menunaikan sholat subuh.

Hari ini hari minggu. Waktunya beristirahat dari semua rutinitas pekerjaan dan berolah raga pagi untuk mengembalikan kebugaran badan dan refreshing pikiran. Aku bersepeda mengelilingi desaku yang masih asri ini. Sepeda ku kayuh meninggalkan rumah dengan bacaan basmallah. Dinginnya pagi itu membuatku terhanyut dan tenggelam dalam lamunan panjang. Teringat pertengkaran hebat yang terjadi tadi malam, sehingga membuatku harus meneteskan air mata. Ahmad nama orang yang sangat aku kasihi dan sayangi. Entah mengapa beberapa hari ini selalu marah-marah tanpa alasan yang pasti dan jelas. Membuat aku terlalu sering menyimpan pilu dalam hati. 

Teringat selalu kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat hatiku terluka.
“Aku mencari wanita untuk aku jadikan pendamping hidupku kelak dan hingga akhir hayatku. Yang mau mendengarkan dan mau ku bimbing menjadi wanita yang baik dan pantas untuk menjadi istri yang solehah. “ katanya dari dalam telfon yang aku genggam dengan nada yang agak meninggi.
“Aku minta maaf sayang. Aku tahu aku salah. Membeli handphone tanpa seizin kamu. Tapi, itu aku lakukan untuk menolong temanku yang sedang terdesak membutuhkan uang. Saat itu pula kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu.” Ucapku membela diri.
“Terus apa maksut kamu memposting pin BBMmu di facebook?”
“Aku hanya memberikannya kepada beberapa temanku di facebook. Itupun nggak lama, Cuma beberapa menit. Setelah itu aku hapus.”
“Kalau kamu tidak bisa aku bimbing ya sudah, terserah kamu saja.”

Piiiieeeemmm.....piiieeeemmm..... suara klakson mobil menyadarkanku dari lamunanku. tanpa aku sadari posisi sepeda yang aku naiki tepat ditengah jalan. Sesegera mungkin aku mengarahkan sepedaku ketepian jalan. Sang matahari mulai memancarkan sinar terangnya. Semakin cepat ku kayuh sepeda untuk segera pulang kerumah.

         Tanggal 1 februari 2015. hari ini ada expo kampus di SMA Negeri 1 Tipa. Aku siap-siap bergegas untuk datang ke acara itu. Dengan agak tergesa-gesa karena acranya jam 10, aku mempercepat laju sepeda motor yang ku naiki. Sesampainya di SMA Negeri 1 Tipa, aku segera memarkirkan sepeda motorku. Sambil berlarian kecil aku menuju ruang expo. Di tempat expo kampus aku bertemu dengan beberapa teman lamaku. Mereka kuliah di beberapa universitas yang ada dalam expo kampus itu. Beberapa diantaranya ada yang dari UNNES, UNS, UI, UMS, UIN, UNY, USM, IKIP PGRI dan masih banyak lagi. Setelah asyik bercengkrama dan reunian kilat dengan teman-teman lamaku. Aku mencoba mencari seseorang yang sejak tadi aku datang, belum nampak batang hidungnya. Bruri,iya.... Bruri namanya, sahabat terbaikku yang sudah aku kenal selama kurang lebih empat tahun ini.

          Aku mengambil handphone dari dalam kantong celanaku dan segera menelfonnya.
“ Kak, kamu dimana?”
“ Aku dirumah ai.”
Tuuuutttt.......tuuutttt.......tiba-tiba telfonku mati. Karna sinyal yang jelek.

          Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera aku keluar dari ruang expo dan berjalan ketempat parkiran sepeda motor. Belum sampai aku ketempat parkir sepeda motor, hujan lebat mengguyur SMA Negeri 1 Tipa dengan sangat derasnya. Aku mencoba mengirim pesan kepada Bruri.
“ Mungkin aku kerumah kamu agak sorean kak. Karna disini ujan deres banget.”
Lama aku menunggu balasan sms darinya yang tak kunjung masuk ke handphoneku. Akhirnya aku berfikir untuk menelfonnya saja.
“ Assalamuallaikum kak, lagi dimana? Aku ntar kerumahmu ya.......?!”
“waalaikumsalam, iya.” Jawabnya singkat dan terkesan cuek dan acuh tak acuh.
“ Kamu kenapa sih kak, bersikap gitu sama aku? Kalau kamu nggak ngebolehin aku kerumah kamu, bilang saja.”
“ Iya, kamu kesini aja. Tadi aku dipanggil ibu diajak ngomong ibu makanya aku jawabnya singkat. Kamu kenapa sih, dari kemarin marah-marahin aku terus?.” Segera aku menutup telfonnya.

Sejenak aku berfikir, memang aku sangat keterlaluan kepadanya beberapa hari ini. Setiap pertengkaran yang terjadi antara aku dan Ahmad. Aku selalu saja menceritakannya kepadanya, apapun keluh kesahku. Semua aku curahkan sepenuhnya kepadanya, selama ini dia selalu bisa memahami perasaanku dan aku menyayanginya melebihi dari sekedar teman biasa. Aku merasa nyaman dan tenang berada disisinya. Tapi, sudah hampir seminggu ini aku selalu bersikap sinis ,judes dan cenderung menghakiminya tanpa tahu apa salahnya. Apa mungkin  aku melampiaskan kemarahanku kepadanya karna efek pertengkaranku dengan Ahmad....??? jadinya dia yang kena imbasnya. Mungkin,iya.....mungkin saja begitulah yang terjadi. Aku harus meminta maaf kepadanya.....iya harus dan wajib.

Aku melihat jam yang ada di handphone yang ku genggam tertera 14:20. Hujan mulai reda meninggalkan gerimis dan genangan air dimana-mana. Aku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 50 km/jam. Sesampainya didepan rumahnya, aku melihat ada 3 orang pelanggan yang duduk didepan warung usaha ibunya. Ku coba mengetuk pintu dan mengucap salam. Seorang pria keluar dari dalam kamar, yang letaknya terlihat dari depan pintu depan. Orang itu yang sering aku panggil kak Bruri.
“Duduk ai.....!!.” sapanya singkat, mempersilahkan aku duduk.
Dia memang memanggilku dengan panggilan akrab “Ai”. Katanya dulu siiiihhhh...... aku seperti istrinya nabi Muhammad SAW yang namanya Aisyah yang super duper cerewetnya.Hehehehe.....
tanpa basa-basi aku langsung duduk. Tak lama kemudian ibunya keluar dari dalam, akupun bersalaman dengan beliau.
“eh kamu ndri, udah lama?.”
“Barusan aja bu.” Jawabku singkat dengan melempar senyuman ramah.

Kak Bruri memandangiku yang dari tadi hanya diam saja.
“Kamu kenapa Ai?”
“ Nggak....., aku nggak apa-apa!!.”
“Aku tadi nggak ikut expo kampus setelah tau kamu mau datang kerumahku.”
“Maaf kak, aku nggak tau.”
“Kamu kenapa Ai, sering marah-marah?.” Sambil mengambil gitar yang ada di pojok ruang tamu.
“Aku Cuma bingung kak, Ahmad akhir-akhir ini sering marah-marah kepadaku. Aku capek kayak gini terus, kak. Aku ingin menjadi diri aku sendiri, tanpa harus berpura-pura manis dan tegar dihadapannya, menahan semua luka dihatiku, Melawan kesepian tanpa hadirnya disaat aku membutuhkannya. Hanya karna aku tak ingin membuatnya sedih dan menambah beban pikirannya. Aku memilikinya tapi aku merasa sendiri.”
“Tapi kamu mencintainya kan, Ai....???.” sambil memetik gitar berirama sebuah lagu.
“Iya kak, aku sangat menyayanginya. Rasa sayangku yang membuat aku kuat dan selalu sabar. Aku yakin mungkin sekarang aku sedang diberi cobaan untuk memperkuat rasa cinta dan kasih sayang antara aku dengannya. Dia bekerja untuk masa depannya dan insyaAllah juga masa depanku nanti. Dia berjuang untuk masa depannya yang indah.”
“Ya..... yang sabar aja Ai.” Sambil masih terus memetik gitar, berasa diriku seperti penyiar radio. Berbicara diiringi dengan irama lagu-lagu.

Tiiiittttiiiittt.......tiiitttiiittt........... handphoneku yang dari tadi aku taruh diatas meja berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Ku buka SMS itu, muncullah satu kalimat “ Sayang ” Dari Ahmad.
“Tuh kan.... di sms dia.” Aku membalas dengan senyum bahagia. Sambil terus membalas sms dari Ahmad.
“Aku juga sudah punya pacar, Ai.” Katanya sambil menunjukkan sebuah foto di handphonenya kepadaku. Ku amati foto gadis berpipi cabi dan berkerudung warna-warni menambah kecantikannya.
“ Kapan kamu jadian sama dia?.”
“Waktu kemarin kamu bilang akan bertunangan dengan Ahmad. Aku menerima cintanya.” Katanya sambil memperlihatkan beberapa foto saat mereka bersama dan berduaan disebuah taman yang indah. Terlihat begitu bahagianya mereka. Entah mengapa dadaku terasa sesak dan seperti tersayat-sayat pisau tajam melihat foto itu. Kebersamaan yang tak pernah aku dapatkan saat bersamanya selama ini. Dalam hatiku berbisik, sungguh beruntungnya wanita itu.

          Aku pandangi langit diluar sudah mulai gelap dan gerimispun mulai reda. Aku berpamitan untuk pulang. Aku melangkah keluar pintu rumahnya. Didepan rumahnya sudah ada ibunya yang sedang duduk diteras rumahnya bersama para pelanggan warungnya. Aku bersalaman dengan beliau dan berpamitan pulang.

          Aku mulai menaiki sepeda motor yang aku parkir didepan rumahnya. Tak tau kenapa tanganku terasa lemas. Terasa tanpa tulang yang menopang seonggok dagingku. Aku berusaha tabah meskipun hatiku terasa remuk seketik itu. Aku mulai menjalankan sepeda motorku. Menarik gas dan pergi berjalan meninggalkannya dengan perlahan namun pasti. Terasa begitu berat dan sepertinya itu sebuah pertemuan yang terakhir dan perpisahan. Tanpa aku sadari, air mata mulai menetes dan membasahi kedua pipiku. Aku bingung apa yang sebenarnya terjadi...??? apa yang sebenarnya aku rasakan ini, apakah ini yang namanya cinta tulus...??? apakah aku mulai jatuh cinta kepadanya atau mungkin hanya sekedar rasa dalam hati yang begitu takut untuk kehilangan sahabat terbaik seperti dirinya jika dia dimiliki orang lain...??? apa mungkin aku merasa cemburu dan terlalu egois ingin memilikinya sepenuhnya....??? aku sangat bahagia melihatnya kini bahagia sudah bersama orang yang sangat dia cintai. Tapi, kenapa semua rasa itu muncul....??? begitu sangat sakit hati ini melihatnya dengan wanita lain. Rasanya seperti luka yang ditaburi garam dan cuka. Sepanjang perjalanan pulang aku hanya bisa menangisi sesuatu yang aku sendiripun tak mengetahui penyebabnya.

          Kurang lebih sudah setengah perjalanan yang aku tempuh. Terlihat dikaca spion sepeda motorku ada dua pria yang tak aku kenal menaiki sepeda motor dengan kecepatan penuh dan mulai berjalan sejajar disamping sepeda motorku.
“Mbak, darimana kok naik motor sendirian...?.” sapa pria asing itu menggodaku.
Aku hanya diam saja sambil sesekali mengusap air mata yang terus berlinang membasahi pipiku. Orang itu masih terus menggodaku, hingga akhirnya aku berhenti ditepi jalan dan merekapun menghampiriku.
“Mas, saya mohon jangan ganggu saya!.” Kataku sambil sesekali mengusap air mata dipipiku.
“Lho mbak, kenapa nangis....?? Kami orang baik-baik. Cuma mau kenalan , jangan  nangis mbak kami nggak punya niat jahat.”
“Kalau begitu saya mohon jangan ganggu saya lagi. Jangan ikuti saya terus.....!!”

          Aku mulai melanjutkan perjalananku kembali dan merekapun berputar balik entah kemana mereka perginya. Gerimis mulai turun lagi. Sesampainya dirumah segera mandi karna badanku basah kuyup dan menunaikan ibadah sholat maghrib. 

        Sejenak aku berbaring ditempat tidur kamarku. Menatap tajam langit-langit kamar, terbayang selalu foto-foto mereka berdua yang terlihat begitu mesra. Bayangan foto itu menari-nari dimataku. Air matapun kembali mengalir dipipiku. Kali ini aku meluapkan segala yang ada didalam hati melalui tangisanku yang lepas. Tak dapat tertahan lagi.

          Tiittiitt......tiittiitt.... handphoneku berdering, kulihat ada sms dan segera ku buka. Pesan dari Ahmad ternyata, dia menyuruhku untuk menelfonnya.
“Assalamuallaikum, sayang.” Sapaku mendahului.
“Waalaikumsalam. Udah sampai dirumah belum sayang?.”
“Sudah, baru saja sampai. Badanku panas dan kepalaku pusing banget sayang. Mungkin karena kehujanan tadi.”
“Kamu tadi nggak bawa jas hujan?.”
“Bawa jas hujan kok, tapi aku buru-buru naik motornya takut sampai rumah kemalaman.”
“Emang kamu nggak bisa berhenti sebentar beberapa menit memakai jas ujan...?? kamu susah dibilanginnya. Sekarang kamu jadinya sakit kan?.”
“Iya sayang, nggak apa-apa....... nanti juga sembuh sendiri kok. ”
“Kamu tadi dari mana? Expo kampus kok sampai sore banget. ”
“Tadi aku pulang dari expo kampus mampir  kerumah temen....yang dulu pernah aku ceritain ke kamu. ”
“Ngapain aja disana sampe sore banget kayak gini?. ”
“Biasa lah sayang, silaturahmi sambil cerita-cerita tentang pasangan masing-masing. ”
“Kamu itu kebiasaan kayak gitu. Tiap ada masalah kamu cerita ketemen-temen kamu. Maksut kamu apa kayak gitu....??.”
“Aku cuma minta saran dari dia. Iya, aku salah. Aku minta maaf. Aku cuma kesepian, butuh teman ngobrol. Aku ingin mandiri, nggak selalu ngeluh ke kamu. Aku nggak mau ganggu kesibukan kamu. Aku nggak mau ngrepotin kamu. Aku selalu mencoba ngertiin kamu.”
“Kamu selalu berbuat salah. Baguslah.....kalau kamu merasa salah dan mengetahui kesalahanmu.”
“Apa saja salahku kepadamu sayang.....??.”
“Pikir saja sendiri. Apa saja kesalahan yang sudah kamu perbuat. Katamu tadi kamu tau kamu salah. Berarti kamu udah tau kan salahmu apa?”
“Aku nggak bisa menilai diri aku sendiri. Aku bingung apa saja kesalahanku....? selama ini aku selalu mencoba memberikan pengertian, perhatian dan kepercayaanku sepenuhnya kepadamu. Aku sangat kesepian, tapi aku bisa mengakalinya dengan membaca buku dan mencari kesibukan lainnya supaya hilang semua kejenuhan yang aku rasakan. Aku menyimpan dan menceritakan semua masalahku lewat tulisan atau sekedar bercerita dengan orang yang aku percayai karna aku nggak mau mengganggu waktumu. Aku tau kamu sangat sibuk. Semua itu demi kamu. aku selalu mengerti dengan keadaanmu, tapi kenapa aku selalu salah dimatamu....?? maafkan aku, belum bisa membahagiakan kamu selama ini. Aku hanya bisa memberi luka. Maafkan aku sayang, aku ingin sendiri saja. Tak tahu entah sampai kapan.”
“ Terserah kamu......aku ikuti saja semua kemauan kamu. Bila memang itu keputusanmu....!!!.”

          Hening, senyap, hanya suara jangkrik yang terdengar. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulut kita. Sampai telfon pun mati dengan sendirinya karna pulsa atau paket telfon yang habis.



                   SELESAI